Posted by: fsindonesia | July 6, 2011

Gender dalam Kesehatan

Sehat merupakan harapan orang, bahkan orang rela menghabiskan uang sampai berjuta-juta ke luar negeri untuk memperoleh kesehatan. Kesehatan tidak semata-mata faktor biologis dan genetik. Faktor sosial budaya, ekonomi, politik, dan lingkungan secara tidak langsung ikut mempengaruhi kesehatan. Namun seringkali ilmu kedokteran hanya terbatas dan cenderung pada proses penyakit yang diderita pasien, penyebab penyakit hanya berdasar respon tubuh, perhatian yang minim dan terbatas pada unsur-unsur sosio-ekonomi dan budaya terhadap kesehatan dan penyakit. Padahal Kesehatan menurut definisi WHO adalah suatu keadaan sejahtera secara utuh baik fisik, mental dan sosial, dan tidak hanya terbebas dari penyakit dan kecacatan. Definisi ini mengingatkan petugas kesehatan pentingnya melihat sesuatu diluar konteks penyakit.

Kita tahu gender adalah konstruksi sosial-budaya yang dibentuk oleh masyarakat, gender juga terkait ekonomi, agama dan psikologis, oleh karena itu gender menjadi penting dalam kesehatan. Terutama bagi kepentingan kaum perempuan. Sebab selama ini perempuan dirugikan oleh faktor-faktor alasan non-klinis yang berakibat sulitnya perempuan memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Kondisi kesehatan perempuan dipengaruhi hal yang sama dengan laki-laki, akan tetapi perempuan mengalaminya secara berbeda karena berbagai hal seperti: tingginya angka kemiskinan dan ketergantungan ekonomi pada perempuan; perempuan mengalami berbagai bentuk kekerasan; sikap negatif terhadap perempuan dewasa dan anak perempuan; terbatasnya kekuasaan yang dimiliki oleh perempuan karena jenis kelaminnya dan kehidupan reproduksinya; serta kurangnya pengaruh perempuan dalam pengambilan keputusan.

Beberapa ketidaksetaraan gender juga mempengaruhi laki-laki, tetapi pengaruh negatifnya lebih sedikit dibanding perempuan. Contoh bagaimana gender mempengaruhi kesehatan, laki-laki lebih banyak terserang Kanker Paru oleh karena merokok merupakan kebiasaan umum hampir diterima oleh semua laki-laki namun tidak demikian dengan perempuan. Contoh lainnya adalah perempuan tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang ia butuhkan oleh karena suami dan mertuanya lebih banyak memutuskan ke mana dan kapan akan ke sarana kesehatan.

Praktek-praktek ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender disebabkan perempuan mempuanyai tiga peran yaitu peran produktif, peran reproduktif dan peran di masyarakat. Peran pertama adalah produktif berhubungan dengan aktivitas dan kegiatan yang menghasilkan uang. Namun sebagian besar upah yang diterima oleh perempuan jauh lebih rendah dibanding yang diterima oleh laki-laki untuk pekerjaan yang sama berat. Hal ini disebabkan lemahnya posisi tawar perempuan. Peran kedua merupakan peran reproduktif. Peran ini berhubungan dengan peran perempuan untuk mengurus rumah tangga termasuk mensejahterakan keluarga, termasuk hamil, melahirkan, merawat anak, memasak, muncuci dan menyetrika. Pekerjaan ini sulit diukur juga tidak menghasilkan uang, menguras tenaga dan harus dikerjakan setiap hari. Peran ketiga merupakan peran di masyarakat, peran ini berkaitan dengan perempuan ikut andil dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, umpamanya menghadiri rapat, kegiatan spiritual, kebudayaan, menghibur kerabat dan sanak saudara yang tertimpa musibah.
Laki-laki dan perempuan mempunya berbagai macam peran, laki-laki umumnya memfokuskan diri dalam peran produktif sebagai pencari nafkah, sementara perempuan harus melaksanakan ketiga peran di atas. Apabila perempuan tidak bisa mengerjakan ketiga peran diatas, maka akan dituding gagal dalam melaksanakan kewajibannya.

Dari ketiga peran manusia diatas, maka terlihat dengan jelas adanya ketidakadilan dalam pembagian peran dan tugas antara laki-laki dan perempuan. Peran gender menyebabkan perempuan harus bekerja keras setiap hari, bahkan pekerjaannya terkadang lebih berat dari pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki, tentu saja hal ini dapat berpengaruh terhadap kesehatan perempuan.

Untuk itu, penting bagi setiap tenaga kesehatan menyadari adanya tiga peran perempuan yang disebutkan di atas, bahwa sakitnya perempuan bukan hanya diakibatkan oleh faktor biologis, psikis semata, akan tetapi ada faktor kultur, sosial, budaya. Ini penting untuk mengurangi ketidakadilan serta ketidaksetaraan gender yang ada selama ini.

penulis: dr. M. yusuf


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: