Posted by: fsindonesia | July 8, 2011

Menilik Kearifan Lokal Terhadap Keberagaman Orentasi Seksual

Isu-isu Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Gender memang tak asing bagi telingaku karena seringkali aku mendengarnya ketika aku mengikuti kegiatan baik itu Seminar di Kampus, Pelatihan atau workshop tentang isu-isu ini. Termasuk isu tentang keberagaman orientasi seksual LGBTI (Q) (Lesbian, Gay, Biseksual, Trans Gender, Interseks dan Queer). Meski tak jarang isu tentang LGBTI (Q) ini mendapat penolakan dari kalangan masyarakat. Bahkan stereotipe (Pelabelan Negatif) dari masyarakat terhadap teman-teman ini menyebutkan bahwa LGBTI (Q) dianggap sebagai penyimpangan seks, penyakit sosial, tidak wajar dan banyak sebutan-sebutan yang melecehkan dan anggapan negatif masyarakat terhadap mereka. Pada akhirnya ketika berbicara LGBTI (Q), kita harus sadar bahwa orientasi seksual setiap individu berbeda bukan hanya Hetero Seksual ada juga yang Homo Seksual, Biseksual, Trans Gender, Interseksual dan Queer. Orientasi seksual setiap orang berbeda-beda dan itu adalah “ hak setiap individu untuk menentukan pilihan orientasi seksual ”. Itu adalah Hak seksual seseorang dan merupakan hasil Konferensi ICPD di Kairo Tahun 1994 dan diakui secara Internasional.
Mengenal Orientasi Seksul lebih dalam
Namun agak kaku pemahamanku ketika aku hanya paham soal LGBTIQ dari kulitnya saja. Tanpa mencoba memahami apa saja jaring-jaring orientasi seksual selain hetero seksual, LGBTI(Q), apa masih ada orientasi seskual selain itu dan disebut apa? Aku tersentak seketika dan takjub. Dalam pelatihan Seksualitas, Gender, Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang diadakan Yayasan Mitra Inti, para aktivis kemanusiaan dari berbagai Lembaga swadaya masyrakat (LSM) dan komunitas yang concern dengan isu-isu Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Gender terlihat begitu serius dan antusias mengikuti diskusi Seksualitas, Perilaku seksual, orientasi seksual dan identitas Seksual tak terkecuali denganku. Rasa mengantukku hilang dan mataku terbuka, ada hal yang menggelitik dan membuka mataku tentang sebuah realita yang sebenarnya ada dalam masyarakat terkait seksual yang terkadang ini masih menjadi momok yang menakutkan dan tabu untuk diperbincangkan.
Meski sering mendengar dan mendiskusikan LGBTI(Q), namun kali ini, sangat menarik di sesi Seksualitas, identitas seksual, perilaku dan orientasi seksual, bukan hanya sekedar membahas soal orientasi seksual yang seperti aku tahu Hetero seksual dan LBGTI (Q) ini. Ternyata masih ada orientasi seksual lain,yaitu LSL dan PSP. “Ah, sepertinya menarik. Apa itu LSL dan PSP ? LSL yaitu laki-laki berhubungan seksual dengan laki-laki (suka sama laki) namun ini hanya perilaku seksual tidak masuk dalam identitas seksual namun laki-laki ini juga bisa suka sama perempuan atau waria dan Laki-laki ini tidak disebut Homo seksual namun tetap disebut LSL, begitupun dengan PSP (Perempuan suka sama Perempuan). Begitu jelas dan gamblang aku mendapat informasi selain LGBTIQ ternyata masih ada orang yang orientasi seksual berbeda dan mereka di sebut LSL dan PSP ini. Sungguh keberagaman orientasi seksual yang luar biasa. Satu hal yang kemudian menggelitik dalam benakku, bagaimana dalam sudut pandang budaya melihat orientasi seksual ini?
Kearifan Lokal Terhadap Keberagaman Orientasi.
Tak hanya itu aku dibukakan mata pada realita orientasi seksual yang begitu beragam. Sontak ini merupakan pengalaman pertama dan baru kali ini aku mendengar dan mendapat informasi langsung. Bahwa begitu banyak kekayaan dan kearifan lokal terhadap orientasi seskual, seperti contoh dalam hal memberi nama Lesbi. Ada satu contoh di Sulawesi Selatan di sana ada Ca lalai, ini sebutan untuk Lesbi dan Ca labai untuk Gay, ada juga Waro’ dan Gemblak di Ponorogo. Perlu kita tahu ternyata dalam karya-karya sastra spektakuler seperti dalam Serat Centini juga banyak menceritakan soal Lesbi dan Homo seksual, Babad Tanah Jawa. Dan yakin masih banyak kearifan-kearifan lokal yang sebenarnya mencatat dan menceritakan yang hubungan perempuan suka perempuan dan laki-laki suka sama laki, memang telah ada sejak dulu. Yang perlu kita pahami adalah bahwa dalam kearifan lokal ini terhadap orientasi seksual itu bukan budaya atau sekedar tradisi bahkan mitos, namun memang benar realitanya memang ada. Rasa-rasanya tak pantas kita sebagai manusia masa kini kemudian memperdebatkan persoalan orientasi seksual bahkan menganggap orang yang berbeda orientasi seksual dengan kita yang sebagian besar Hetero seksual itu menyimpang. Yang kemudian perlu kita tumbuhkan dan tancapkan dalam-dalam di hati kita adalah rasa toleran dan tidak mudah menjust orang lain yang berbeda. Karena kita memang beragam sejak terlahir di dunia, begitupun dengan keberagaman orientasi seksual itu indah. (waallahu’alam bishowaf)

Penulis: Asih Widiyowati


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: