Posted by: fsindonesia | July 8, 2011

Oposisi Biner

Di masyarakat patriarkis berlaku hukum oposisi biner dari Claude Levi-Strauss, yang menyatakan bahwa hanya ada dua tanda atau kata yang hanya punya arti jika masing-masing beroposisi dengan yang lain. Keberadaan yang satu ditentukan oleh ketidakberadaan yang lain. Siang menjadi ada karena dilawankan dengan malam, karena siang ada hanya ketika malam tidak ada. Tidak mungkin keduanya ada pada saat yang sama karena keduanya mempunyai sifat yang berlawanan. Hukum oposisi biner itu berlaku dalam semua hal: terang–gelap, baik–buruk, maju-mundur, halus-kasar, surga-neraka, halal-haram dan seterusnya.

Di dalam opisisi biner, garis batas sifat bersifat tegas dan mutlak, tidak ada ruang abu-abu, dan setiap realitas harus masuk dalam salahsatu kotak yang berlawanan secara mutlak. Saya benar dan kamu salah, saya normal dan kamu abnormal, saya umum kamu khusus, saya menang dan kamu harus kalah, saya hidup dan kamu harus mati. Segera dapat diduga, bahwa opisisi biner pasti menimbulkan posisi ambigu, yaitu realitas yang tidak dapat masuk ke dalam salah satu kategori dari pasangan biner tersebut, dan posisi seperti ini disebut ’kategori ambigu’ atau ’kategori skandal’. Ketegori seperti ini mengganggu sistem opisisi biner atau mengotori batas-batas oposisi biner.

Hukum oposisi biner ini berlaku di masyarakat patriarkis dalam memposisikan laki dan perempuan di masyarakat. Pada laki-laki melekat ciri maskulinitas dan pada perempuan melekat ciri femininitas. Di sini laki-laki bersifat maskulin yang artinya kuat, berotot, superior, dan berkuasa, sementara perempuan bersifat feminin yang artinya lemah, tidak berotot, subordinat, dan dikuasai. Tidak ada ruang ketiga, yaitu laki-laki mempunyai sifat feminin dan perempuan bersifat maskulin. Ketika laki-laki lebih menonjolkan sifat femininnya (banci/waria) atau perempuan lebih menghadirkan sifat maskulinnya (tomboy) ia harus masuk di kategori amibigu atau kategori skandal yang dimaknai sebagai sebuah anomali. Sama anomalinya ketika laki-laki menjalankan peran domestik (merawat anak, memasak, cuci piring, atau menyapu lantai) atau ketika perempuan memainkan peran di ranah pubkik menjadi pemimpin atau manajer. Repotnya masyarakat cenderung mengokohkan oposisi binari dengan terus menerus melakukan reproduksi dikotomi maskulinitas dan femininitas. Institusi agama, negara, atau media ramai-ramai mengeraskan dikotomi tersebut, dan dari situ lahir kekerasan terhadap perempuan yang betul-betul sistemik. Pengerasan dikotomi oleh media misalnya terlihat dari munculnya banyak majalah perempuan yang mereproduksi nilai-nilai femininitas (mode pakaian, resep masakan, atau kecantikan) dan majalah laki-laki yang melakukan reproduksi nilai-nilai maskulinitas. Dalam kasus ini juga berlaku hukum teori kuasa di mana laki-laki dengan orientasi seksual mayoritas melakukan penindasan terhadap kelompok minoritas atau lebih dikenal dengan hegemonic masculinity. Para laki-laki heteroseksual yg mayoritas enggan mengakui laki-laki gay sebagai laki-laki sejati karena dianggap menyimpang

Bahkan dalam kehidupan seksual laki-laki heteroseksual pun juga tak lepas dari dogma dan doktrin maskulinitas. Dalam peri kehidupan seksual heteronormatif, nilai-nilai, kepercayaan dan keyakinan para laki-laki akan dunia seksual sedikit banyak dibangun atas dasar penaklukan, tantangan, keperkasaan serta berorientasi pada hasil akhir ketimbang sebuah proses yang luhur dalam suatu relasi yang setara dengan pasangannya (perempuan). Dunia seksual yang diyakini oleh laki-laki adalah suatu pertarungan harga diri di mana mereka merasa bahwa aktivitas seksual harus selalu mampu ”mengalahkan” pasangannya. Oleh karenanya seksualitas dalam tinjauan maskulinitas heteronormativitas menjadi sempit dan hanya mengenal satu tujuan akhir yaitu sex intercourse. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, ukuran maskulinitas dalam dunia seksual laki-laki tercermin dalam kata-kata penaklukan seksual seperti ”Ayo kuat berapa ronde?!”, ”menang”, ”KO” ”,lemah”,” loyo”. Hal ini tentunya banyak membuat laki-laki berusaha memenangkan ”pertarungan seksual” tersebut dan tentu saja akan menciptakan mitos-mitos dan kebutuhan pasar akan produk-produk kelelakian yang dianggap dapat membantu memenangkan ”pertarungan” tersebut. Dapat kita lihat bahwa beredarnya obat-obat penguat seksual saat ini, sebagian besar diperuntukkan bagi kaum laki-laki dan banyak pula para laki-laki yang justru terbebani dengan mitos dan nilai-nilai penaklukkan seksual tersebut. Bahkan pada kasus yang lebih ekstrem, laki-laki yang ingin membuktikan ”kejantanannya” secara sepihak akan melakukan pemaksaan secara seksual terhadap lawan jenisnya, terlebih ketika ia merasa belum terbukti sebagai laki-laki.

Penulis: Adit


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: