Posted by: fsindonesia | July 8, 2011

Stigmatisasi Lesbian dalam Pernikahan Hetero

Perempuan dalam sepanjang sejarah peradaban manusia dalam kuasa sistem patriarkhi mengalami diskriminasi pada seluruh aspek kehidupannya. Dari seks biologisnya hingga gender. Sehingga jenis kelamin satu ini senantiasa dianggap sebagai the second sex yang pantas berada pada sub-ordinat bagi kepentingan patriarkhi. Begitu pula perempuan lesbian, ia mengalami stigma berlipat ganda dalam menanggung ketertindasan yang teramat kejam. Ideologi, agama, budaya dan politik menyertai secara kuat sebagai pendukung untuk menghukum dan menempelkan stereotipe pada perempuan lesbian. Pengakuan budaya akan heteronormativitas diatur dengan sangat ketat. Ideologi ini mengharuskan laki-laki dan perempuan tunduk pada aturan heteroseksualitas yang intinya adalah keharusan fungsi pro-kreasi seksualitas (Yasir Alimi, 2004).

Sebuah kasus terjadi pada seorang perempuan yang telah menikah, dalam prosesnya ia mengalami dinamika terkait orientasi seksual. Meyakini dirinya memiliki ketertarikan emosional dan seksual kepada perempuan serta merefleksikan kehidupan pernikahan yang dijalani beberapa tahun terakhir ini. Dalam proses tersebut ancaman datang dari berbagai pihak, suami, keluarga bahkan sejumlah aktivis perempuan yang selama ini individu dalam contoh kasus tersebut dianggap sebagai pelaku kekerasan dalam rumah tangga, padahal sebagai manusia yang meyakini akan kehidupan yang dinamis ia sedang mencoba membuka ruang dialog, keterbukaan dan kejujuran di dalam rumah tangga dan lingkungannya. Merangkul orang-orang di sekitarnya agar bisa memahami bahwa ia sedang menjalani proses alami mengenali diri.

Ancaman sosial terjadi karena pengetahuan masyarakat selama ini berhenti pada penerimaan awal akan informasi yang dianggapnya benar apalagi dimungkinkan berasal dari keyakinan agama. Pengetahuan masyarakat menurut saya cenderung statis. Pengetahuan seharusnya berkembang seiring dengan gejala-gejala sosial dan fenomena yang terjadi pada masyarakat. Pengetahuan tidak kaku akan tetapi berjalan sesuai konteks kesejarahan manusia. Demikian juga pengetahuan tentang heteroseksualitas, seperti yang dikemukakan Gayle Rubin, seorang antropolog feminis, dia menegaskan bagaimana heteroseksualitas dinaturalisasi dan perilaku seksual lainnya sebagai perilaku yang abnormal. Ancaman yang berkedok agamapun bergulir, kisah Nabi Luth yang menjadi standar bagi larangan homoseksual yang diyakini penganut Abrahamik. Teks bisa hidup ketika pembacaan akan teks tersebut dilihat dari berbagai kacamata penggunanya yang memiliki kekayaan budaya. Sehingga dalam menafsirkan kisah Nabi Luth ataupun teks lainnya bisa luas dan kaya.

Negara dengan segala atribut dan sistemnyapun ternyata tidak konsisten. Produk Undang-undang yang dibuat kadang saling bertentangan satu dengan lainnya. Undang-undang dengan tegas menjelaskan tentang hak asasi manusia, tentang persamaan hak setiap warga Negara. Akan tetapi pada praktiknya tidak ada perlindungan dan pengakuan dari Negara pada kelompok-kelompok minoritas seperti halnya kelompok lesbian ini.

Proses identifikasi diri mengacu kepada dua aspek, aspek yang bersifat genetik dan aspek lingkungan. Atau meminjam istilah Prof. Nurul Ilmi Idrus yaitu aspek congenital yang dimaknai sebagai given serta acquired yakni aspek dari lingkungan.
Bagi masyarakat awam yang memiliki pengetahuan terbatas tentang perkembangan wacana seksualitas, identifikasi dari aspek kromosomik biologis dan anatomi fisiologi lebih bisa diterima dengan alasan given, sehingga dapat dikatakan sebagai kodrat.

Terlepas dari pertentangan tentang seksualitas ini, saya coba menarik
benang merahnya dengan mengacu kepada pendapat Dr. dr. Susilowati, bahwa orientasi seksual seseorang didasarkan pada pada dua hal, secara genetik yang merujuk ke given dan yang kedua sebab lingkungan dan konstruksi sosial. Prosentase perbandingan tersebut antara 60-70 % berasal dari gen dan selebihnya yakni 30-40 % karena lingkungan. Saya juga akan menunjukkan skala yang dibuat Kinsey tentang perilaku seksual seseorang antara 0 – 6. Dari skala yang ditawarkan Kinsey, saya berpendapat bahwa skala tersebut tidak semata-mata berlaku pada perilaku seksual malainkan juga pada orientasi seksualnya. Mengacu kepada pendapat dokter Susi tadi, maka setiap orang menurut saya memiliki kecenderungan homoseksual maupun heteroseksual baik secara genetik maupun konstruksi sosial. Artinya kedua aspek tersebut saling memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.

Perempuan lesbian dalam pernikahan hetero tidak dapat diberi stigma negatif sebagai pelaku kekerasan selama ia masih dalam proses mengenali diri, mengidentifikasi dirinya sebagai homoseksual lalu meyakini pilihan orientasi seksualnya. Dari proses identifikasi tersebut jika seseorang mengenali dan menerima orientasi seksualnya sebagai lesbian, disitulah awal ia dalam menentukan pilihan identitas seksualnya dan selanjutnya memiliki keputusan yang matang untuk memilih pasangan dalam hidupnya.

Penulis: Achoe Sunhiyah Misya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: