Posted by: fsindonesia | September 6, 2011

Cerpen Ustad Ahmad

Tutup mata.
Lepas raga.
Kelana jiwa.
Temu surga.

Usai shalat Azhar, Imam tak beranjak dari batu sungai sebesar kerbau. Ia mendekap sajadah, hangat merasuk batin. Lututnya menekuk. Tangannya menopang dagu. Sinar matanya jatuh di gemericik air. Hidup, senapas aliran sungai. Terus bergulir lincah dengan ritme tak terduga. Ia mendekap sajadah lebih erat. Seolah menyesap segenap kenangan yang hinggap.
“Imam, ini untuk kamu.”
“Terima kasih banyak, Ustad.”
Imam melonjak kegirangan. Jemarinya cekatan merobek kertas karton coklat. Sajadah merah hati bergambar Ka’bah. Ia membentangkan di atas tikar pandan. Telapak tangannya mengusap permukaan sajadah. Sangat halus. Ia berpaling ke arah Ustad Ahmad. Serta-merta memeluknya, menciumi pipinya berulangkali,”Terima kasih, Ustad. Saya senang sekali.”
“Rajin shalat dan mengaji ya. Jangan malas.”
“Iya, Ustad,” mukanya bersemu merah jambu.
Angin pegunungan membelai rambutnya. Imam menyisipkan helai rambut di pipi ke telinga. Berulangkali Ustad Ahmad mengingatkan untuk potong rambut. Tapi, ia berkeras menampiknya. Tunggu bulan Sura, Ustad. Dalihnya. Ia suka mengabadikan wajah Ustad Ahmad yang geregetan. Pori-pori pipi memerah, pancaran mata tak rela, dan gigi gemeretak. Hingga akhirnya, tragedi itu terjadi. Ia mendengus kala meraba rambut ditengkuknya pupus.
“Ustad jahat…ustad jahat…ustad jahat…”
Imam seperti orang kerasukan setan. Memukuli dada Ustad Ahmad sekuat tenaga. Empunya malah terkekeh-kekeh. Sengaja membiarkan dada pejalnya jadi sasaran amukan. Hingga ia capek sendiri. Jatuh dipelukannya dengan tangis gugu.
“Ustad curang,” rajuknya.
“Begini ‘kan lebih ganteng.”
“Nggak…ustad curang. Diam-diam potong rambut waktu tidur.”
“Hehehe…”
Bilah-bilah sinar matahari menusuk dedaun bambu, runtuh di permukaan air sungai, hingga tampak kemilauan. Imam menggigit bibirnya. Masih terasa keindahan itu. Kala rajuknya berbuah dekapan hangat hingga terlelap. Ia berhak atas tubuh indah lelaki pujaannya. Semalaman, kepalanya rebah di dadanya. Hingga ia sanggup mendengar detak jantung dan hembusan nafas. Pun, kedua tangannya mencengkeram lengan kokoh berbulu halus. Tak sudi lepas. Sadar sepenuhnya, kesempatan kadang tak terulang.
Jemarinya menjuntai ke permukaan sungai, memainkan kecipak-kecipuk, sejuk. Hatinya masih perawan. Belum tersentuh keindahan. Hingga guyuran suara membangkitkan segenap rasa yang terpendam. Lamat-lamat, hatinya yang perawan tersentuh kumandang adzan. Ia tergeragap dari lelap, lalu berlari ke teras. Tampak Bapaknya memakai sarung dan kemeja, rapi sekali.
“Dasar anak ndableg. Tidur saja kerjaannya. Lekas mandi, ambil air wudhu, dan ikut Bapak ke Mushola,” jemari Bapaknya membetulkan letak kopiah.
“Siapa yang adzan, Bapak? Suaranya merdu sekali.”
“Ustad baru. Menggantikan Ustad Ismail yang sakit pinggang.”
“Ustad siapa?”
“Bapak lupa namanya. Habis shalat Maghrib, akan diperkenalkan. Bapak berangkat dulu ya. Assalamualaikum,” tapak kaki Bapaknya beringsut meninggalkan teras.
“Waalaikumsalam.”
Hal terindah yang Imam kagumi adalah cerlang pelangi di sore hari. Kala hujan reda, ia selalu memanjat pohon mangga di belakang rumah. Menghikmati lengkung warna-warni hingga pudar terserap malam. Tapi, itu tiada artinya lagi. Ia menemukan keindahan segala. Dari seorang lelaki, yang di matanya begitu sempurna. Dan hidupnya tak lagi sama. Hatinya tergeletar gairah nan indah. Tertuju satu: Ustad Ahmad.
Imam duduk di pojok Mushola. Dua matanya tak berkedip merekam keseluruhan Ustad Ahmad. Sungguh sempurna. Pasti mood Tuhan sedang bagus-bagusnya. Hingga tiap jengkalnya membangkitkan decak kagum. Dibalik kopiah, rambutnya tercukur rapi. Parasnya tampan. Mengingatkannya pada kisah Nabi Yusuf. Dua lengkung alisnya tebal, seperti sepasang bulan sabit. Di bawahnya, dua pancaran mata teduh. Persis telaga kembar. Kumis, pipi, dan dagu tampak kebiruan. Menambah pesona sang lelaki. Pakaiannya mencolok di antara jamaah yang hadir, batik tulis. Pasti mahal. Membuat getar mudanya iri ingin memiliki. Dan, oh, lengan itu. Ada bulu-bulu halus merambat di atasnya. Dadanya berdenyut kencang, menggairahkan. Terakhir, sarung kotak-kotak merah marun. Melekat ketat di paha empunya yang bersila.
Seseorang menjentik telinganya. Ia menoleh. Arif nyengir kuda,”Bantu bagi pisang goreng ya.” Tersodor dua piring pisang goreng ke tangannya. Dadanya dag dig dug. Bapaknya melambai. Aduh, kenapa Bapak duduk bersebelahan dengan Ustad itu. Ia mindik-mindik ke tengah. Beringsut sesopan mungkin dan meletakkan dua piring pisang goreng dengan gemetaran. Suara Bapaknya bergaung,”Ini putra saya, Imam. Baru masuk Madrasah Aliyah Negeri. Anaknya bandel. Tolong Ustad ajari biar manut.” Ia merengut.
Lidah petir menyambar hatinya, kala dua matanya bersiroboh dengan dua mata Ustad itu. Suaranya berat, menggoncangkan perasaan,”Imam harus belajar jadi imam dengan beriman ya.” Duh, senyum itu selegit guyuran madu. Ia tersipu-sipu, mengangguk malu. Lekas beringsut ke belakang dengan rasa membuncah tak karuan. Tiba di pojok Mushola, aman. Ia duduk terpekur dengan batin mengawang-awang. Lagi-lagi, seseorang menjentik telinganya. “Imam, di Mushola nggak boleh cengengesan,” bisik Budiman.
Bebatuan besar, gemericik air sungai, deretan pohon bambu, dan bentang langit biru. Padanya ia bagikan seluruh cerita. Tentang mimpi-mimpi mudanya yang hadir tiap malam. Ah, beginikah perasaan pemuda yang akil baliq? Seluruh perhatian terserap pada pribadi menakjubkan. Tak ada yang tahu, bahwa tiap malam tidurnya ditemani Ustad Ahmad. Bahkan, oleh Ustad Ahmad sendiri. Mimpi indah yang tiap pagi berbuah basah.
Imam berlari kecil menyusuri pematang sawah sambil menenteng rantang berisi makan siang. Di kanan-kirinya, bulir-bulir padi mulai menguning. Pandangannya tertuju di satu tempat, gubuk tengah sawah. Di sana, telah menunggu lelaki bermata teduh, Ustad Ahmad. Selalu hadir dengan cerita baru. Telah ia sesap geguritan, kisah Wali Songo, pantun Melayu, Ramayana dan Mahabharata. Ia tercengang-cengang kala mendengar cerita orang-orang di balik gunung Wilis yang bisa bertatap muka tanpa jumpa. Internet, kata Ustad Ahmad. Entah apa itu. Di benaknya, tergambar Kanjeng Sultan Agung yang tiap jumatan pergi ke Mekah, tetapi badannya tetap di Pulau Jawa. Seperti itukah internet?
Jantungnya berdegup kencang. Imam meletakkan rantang pelan-pelan, takut berbunyi gemerontang. Ia bersandar di tiang bambu. Seperti kertas dihadapkan api, ia menjaga jarak. Takut dirinya terbakar. Kepalanya cenat-cenut merunuti lelaki bermata teduh tidur telentang tanpa pakaian. Hanya mengenakan celana komprang hitam selutut. Air liurnya membanjir. Berulangkali ia meneguknya. Huh, ia melepaskan beban berat di dadanya. Tetapi, matanya kian nakal menyisir tiap inci lelaki di hadapannya. Rambut lurusnya teracak angin. Sepasang bulan sabit itu bersinar terang meski siang. Bibirnya terkatup rapat. Terlihat kenyal laiknya kue bikang. Ia ingin sekali melumatnya. Kumisnya tumbuh tipis. Bulu-bulu pipi dan dagunya serupa rumput ditimpa gerimis senja. Dadanya berbidang, lengkap dengan sepasang puting hitam kemerahan. Otot-ototnya terbangun sempurna. Pasti empunya rajin olahraga. Perutnya rata seperti landasan pacuan kuda. Pusarnya melingkar bak cekungan mata air. Bahu dan lengannya kokoh. Sanggup meremukkan Singa kelaparan. Ia kian bergidik kala pandangnya menjelajah bulu-bulu halus di lengan hingga pergelangan tangan, di dada hingga pusar. Mata nakalnya menerka misteri dibalik celana, sebesar apa?
Tiba-tiba terdengar siulan. Tembang yang sangat ia kenal: Ilir-ilir. Mata Ustad Ahmad terpejam. Tapi, bibir bikang itu mengerucut, menggemaskan. Dalam hati, Imam ikut nembang: Ilir-ilir ilir-ilir tandure wis sumilir…tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar. Cah angon cah angon…penekno blimbing kuwi. Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodo siro…Empunya membuka mata. Ia terkesiap. Tak sanggup melarikan diri. Hanya bisa pasrah terbakar api.
Ah, salah. Ia terbakar ketakutannya sendiri. Justru di sepasang mata itu, ia menemukan sumber mata air teduh. Laksana kucuran air di bukit Wilis, di sela-sela rimbun perdu. Ia terseret ke dalamnya. Ingin membasuh segenap rasa dengan kesejukan tak terhingga. Pasrah atasnya. Hingga tiada lagi gelora.
Dan perlahan, mata air itu bangkit mendekatinya. Menyarikan segenap tetesnya lewat sentuhan jemari di rambut, dahi, kelopak mata, hidung, pipi, dan bibir. Ia memejam, kala mata air itu mengucur pelan lewat sentuhan bibir. Begitu lembut. Hingga ia terbuai dalam regukan pertama. Tak cukup sampai di situ. Ia mengikhlaskan bibirnya memisah, biar mata air itu leluasa masuk ke rongga mulutnya. Ah, sejuk tak terkira. Peraduan mata air dalam mulutnya bergerak pelan. Terasa lidahnya mengecap wanginya. Pun, langit-langit mulutnya terbasahi sempurna. Hingga paduan itu menenggelamkannya.
Ia terseret arus mata air yang meluruhkan pakaian di badan. Ia tak berani membuka mata. Ingin sepenuhnya menghikmati segenap rasa. Tunai sudah membasahi mulut. Kini mata air itu bergulir pelan membasahi leher, mengarus di dada, bergelombang lama di putingnya, hingga ia mengejang tak berdaya. Terus mengalir ke ceruk landai pusarnya. Dingin mengusap syaraf-syaraf arinya. Ia menegakkan otot-otot punggung, bertahan dari hempasan mata air yang kian beku. Jemarinya meremas tikar pandan saat gelegak itu tak tertahankan. Mata air yang tenang itu berubah gelombang yang menggulung segala yang ada di pangkal paha. Kian lama kian membadai. Tak ada jalan selain rela dihempasnya. Maka, ketika mata air itu menumpahkan segala kesejukan, ia larut dalam ombang-ambing badai tak berkesudahan. Tiap porinya memekar sempurna. Hingga tiap tetes merasuk ke tubuhnya. Mata air itu terus bergelombang, kian membadai, menghancurkan seluruh pertahanan terakhir. Ia meledak di ambang batas langit dan bumi, nyata dan mimpi. Memuntahkan segenap yang terpenjara tubuh dalam erangan panjang. Ia tenggelam. Menyatu dengan kesejukan baru. Hingga tak sanggup memilah keduanya. Sebab ia telah menjelma kesejukan itu sendiri, mata air mandiri.
Ia membuka mata. Basah di celana.
Sinar matahari kian redup. Imam tak ingin beranjak dari bebatuan. Ia meletakkan sajadah di atas batu, kakinya selonjoran, lalu tubuhnya telentang. Sengaja menjadikan sajadah sebagai bantalan. Batinnya mengalun merdu. Bahagia itu sederhana. Di sini pun ada. Tak perlu ke mana-mana. Cukup menghikmati bentang langit sore, menghitung awan berarak pelan, lembut gemericik air sungai, gemerusuk dedaun bambu, cericit burung terbang, dan sisa-sisa sinar matahari membasuh kulit. Entah kenapa, dalam batin yang dirundung bahagia, segalanya menjadi peka. Tiap detail begitu bermakna. Bahkan, dalam diam, ia sanggup menghitung degup jantungnya sendiri. Alam, Tuhan, dan dirinya sangat dekat, tak terpisahkan.
Ia tak habis pikir, kenapa lelaki setampan Ustad Ahmad tiba-tiba terdampar di dusun kecil di lipatan gunung Wilis. Datang serupa malaikat yang menyedot perhatian seluruh penduduk. Pun, kenapa Ustad Ahmad memilih dirinya. Bukan Arif, Budiman, Setio, Herman, atau yang lain. Entahlah. Ia hanya percaya, segala yang hadir di dunia ada maknanya. Tak perlu berkecil hati atau sebaliknya, tak usah adigang, adigung, adiguna, kata Ustad Ismail. Ia ingat betul saat Ustad Ahmad pertama kali anjangsana ke rumahnya. Selaku ketua RT, tentu Bapaknya jadi jujugan. Sikapnya yang sopan dan tutur katanya yang santun telah menyita simpati Bapak dan Ibu.
Di dapur, Imam membantu Ibunya marut kelapa. Telinganya mencuri dengar percakapan Ustad Ahmad dengan Bapaknya di ruang tamu. Oh, lulusan pondok Gontor. Pantas suaranya merdu sekali saat adzan. Hah, bolak-balik khatam Al-Qur’an. Ia mengaji saja masih belepotan. Wah, sudah keliling Jawa. Ia ke kota Madiun saja baru satu kali. Aduh, tiga kali mengantar rombongan ziarah Wali Songo. Ia belum pernah sama sekali. Nah, ini yang melegakan, Ustad Ahmad akan tinggal di dusunnya selama enam bulan. Ia bisa belajar banyak darinya. Ibunya menjawil,”Imam, bawa kopinya ke depan.” Ia mengangguk. Beranjak mencuci tangan, lalu meraih nampan.
“Oh, ini Imam yang di Mushola kemarin ya.”
Ia mengangguk. Tak berani menatap lelaki tampan itu.
“Duduk samping Bapak, Mam.”
Usai menaruh kopi, ia beringsut ke ambin, duduk samping Bapaknya.
“Mumpung ada Ustad Ahmad, kamu bisa belajar ngaji padanya. Jangan main-main di sungai terus,” jemari Bapaknya mengusap kepalanya lembut. Ia mengangguk.
“Cari apa di sungai, Imam?” tanya lelaki itu.
“Cari ikan, Ustad,” ia tak berani mendongak.
“Kapan-kapan Ustad ikut ya.” Ia tersipu-sipu.
“Lho, kok malah terbalik, jadi Ustadz yang ikut Imam,” cetus bapaknya.
“Tak apa, Pak. Belajar tak harus di Mushola. Anak harus dekat dengan alam. Di kota, kehidupan seperti ini langka. Oya, ada cerita lucu. Ini kisah sahabat saya di Surabaya. Anaknya suka makan ayam goreng. Biar praktis, makannya di Mac Donals. Satu hari, anaknya diajak ke kebun binatang. Sangat ketakutan melihat ayam. Rupanya, anak itu tak tahu kalau ayam yang ia makan itu asalnya dari makhluk hidup bernama ayam. Yang ia tahu hanya potongan daging gurih terbalut tepung. Di kota, hutannya dari beton, Pak. Mana mungkin ayamnya betah hidup di sana. Sampai-sampai, seorang anak tak tahu ada makhluk hidup bernama ayam. Ini yang saya maksudkan belajar dari alam, Pak.”
“Aneh, ya. Padahal orang dusun banyak yang ingin tinggal di kota.”
Bapak dan Ustad Ahmad tertawa renyah. Ia hanya mesam-mesem.
“Bagaimana saran saya tadi, Ustad?”
“Matur nuwun, Pak. Saya tak ingin merepotkan. Lebih baik saya tinggal di bangunan samping Mushola. Bisa sekalian menjenguk Ustad Ismail kalau istrinya sedang pergi ke pasar,” tolaknya secara halus.
“Tapi, yang satu ini, Ustad tak boleh menolak. Urusan makan, biar Ibunya Imam yang masak. Agar Ustad punya banyak waktu untuk berbagi ilmu dengan penduduk dusun sini,” paksa Bapaknya secara halus. Ustad Ahmad hanya mengangguk.
“Sekali lagi, matur nuwun, Pak.”
Bapaknya menepuk-nepuk paha Imam,”Nanti biar Imam yang mengantar ke sana. Kamu jangan telat bangun, Mam, biar Ustad Ahmad tak kelaparan.”
“Inggih, Pak.”
Imam tertawa kecil. Hidup sungguh ajaib. Siapa yang menduga, Bapaknya telah membuka jalan keintiman yang ia impikan. Siapa yang mengira, dua hati dua raga, dapat bersenyawa dengan bentuk tubuh yang sama. Bulan pertama ia dibalut mimpi. Bulan kedua ia mendapatkan titik terang. Bulan ketiga mimpinya mewujud nyata, sempurna. Sejenak, ia menghela napas, demi mengurai kenangan indah yang tersimpan rapat.
Gerimis tipis membasuh seluruh dusun. Imam berlari-lari kecil menuju Mushola. Jaraknya sekitar dua ratus meter dari rumahnya. Tangan kanannya menenteng rantang berisi makan siang. Separuh perjalanan, hujan mengguyur deras. Ia berteduh di bawah pohon jati. Tak ayal, titik air hujan memasahi bajunya. Dua matanya menengadah ke langit. Ah, sepertinya hujan kian lebat. Ia memutuskan nekad meneruskan perjalanan. Tangan kirinya meraih daun jati yang terendah, menjadikannya penutup kepala. Lantas, ia berlari sekuat tenaga ke Mushola. Napasnya hampir putus saat tiba di sana. Terengah-engah. Ia jatuh terduduk. Meletakkan rantang di teras. Napasnya masih ngos-ngosan. Matanya menjelajah bangunan di samping Mushola, tempat tinggal Ustad Ahmad. Tumben terkunci. Ia menggigil kedinginan. Berusaha menghindar dari terpaan air hujan. Ia meringkuk di sudut Mushola. Menunggu hujan reda, sekaligus kedatangan lelaki pujaannya. Entah kenapa, kebiasaan buruknya kambuh. Kantuk datang. Diterpa bosan, ia ketiduran.
Suara harmonika membelai telinganya. Imam membuka kelopak mata. Hal pertama yang terpandang adalah tiga lampu teplok yang menggantung di tiga sudut ruangan. Cahayanya remang kekuningan. Ini bukan kamarnya. Lalu ekor matanya mencari sumber suara harmonika. Di bawah lampu teplok, di sudut ruangan, ia melihat Ustad Ahmad duduk selonjoran di dipan bambu, punggungnya bersandar di tembok. Memakai kaos singlet dan sarung. Samar-samar ia memperhatikan lelaki bermata teduh itu. Matanya terpejam, begitu menghayati. Jemarinya lincah menari ke kanan dan ke kiri. Napasnya turun-naik teratur. Tubuhnya yang padat berisi terlihat perkasa ditimpa cahaya. Ia takjub menghikmatinya.
Ia berusaha menggerakkan badan, terasa pegal. Tersadar, tubuhnya hanya terbalut kain sarung. Polos, tanpa pakaian dibaliknya. Hawa dingin masih membasuh sekujur kulit. Matanya mengawang pada jajaran pakaian basah yang menggantung di dinding. Nah, itu bajunya. Basah semua. Pantas. Suara harmonika berhenti. Lagu itu usai. Ia menarik rapat sarung, mencari kehangatan. Ia tetap diam. Memperhatikan lelaki bermata teduh bangkit dari ambin, berjalan pelan ke meja kayu, menyiapkan dua gelas bertangkai besi, lalu menuang air panas dari termos. Dua komposisi berbeda: kopi dan teh. Getar itu bangkit lagi. Kali ini campur debar tertahan.
Lelaki bermata teduh duduk tepat di sampingnya. Menyorongkan gelas berisi teh.
“Minum tehnya, biar hangat. Pasti kamu kedinginan.”
Ia meneguk teh. Hangat merambat di badan.
“Tadi saya juga kehujanan. Habis ikut panen jagung.”
Ia tak sanggup menjawab, hanya mampu mengangguk.
“Kasihan ya.”
Duh, senyumnya manis sekali.
“Bajumu basah semua. Biar tak masuk angin, saya jemur. Tak usah mandi, tadi sudah saya sibin pakai air hangat,” lelaki bermata teduh itu menepuk-nepuk bahunya.
Ia bangkit, duduk bersandar di tembok. Entah kenapa, ia tak sanggup berkata-kata.
“Habis minum teh, lekas cuci muka biar segar.”
Ia meneguk teh beberapa kali.
“Jangan lupa ambil air wudhu dan shalat Isya sekalian. Oya, saya sudah ijin Bapak kamu. Jadi, malam ini kamu tidur di sini.”
Aduh! Ia kaget, antara senang dan bingung. Pasti semalaman tak bisa tidur. Ah, sudahlah. Lihat saja nanti. Ia membebatkan sarung ke pinggang, lalu turun dari ambin.
“Nih, pakai.”
Lelaki bermata teduh itu memberikan kaos oblong. Ia memakainya, tampak kebesaran. Lalu berjalan keluar pintu. Saat menutup pintu, ia mencuri pandang lelaki pujaannya. Tengah melepas sarung, juga tidak memakai apa-apa. Aduh!
Hawa dingin menusuk tulang. Usai hujan, bintang di langit berkelipan. Sepi. Deru angin berbaur suara jangkerik dan kodok ngorek. Ia membasuh mukanya berkali-kali, lalu melanjutkan ritual wudhu. Konsentrasinya berantakan. Bayangan Ustad Ahmad tanpa sarung tanpa apa-apa lebih mendominasi. Ia masuk ke Mushola. Menjalankan shalat Isya dengan pikiran terbelah.
“Ayo, makan,” sambut lelaki bermata teduh, kala tangannya membuka pintu. Ah, kali ini memakai celana kolor ketat dan kaos singlet.
“Banyak sekali makanannya, Ustad?”
“Tadi Ibu kamu ke sini, kirim makanan lagi. Ayo, makan.”
Ia lahap menyantap urap-urap lauk ikan asin. Lelaki bermata teduh menikmati lodeh dan tempe goreng. Tak berapa lama, makanan di meja tak tersisa.
“Wah, kenyang ya.”
Ustad Ahmad beranjak ke ambin, duduk selonjoran. Lagi-lagi, meraih harmonika dan hendak memainkannya. “Duduk sini, dekat Ustad.” Ia beranjak dari meja makan, lalu ikut-ikutan selonjoran di ambin. Matanya memejam, menghikmati suara harmonika memecah malam. Dingin malam kian gigil. Ia membuka bebat sarung, lalu meringkuk di dalamnya.
“Masih kedinginan ya?”
Ia mengangguk. Tangan kiri lelaki bermata teduh merangkul tubuhnya. Memberi hangat lewat dekap. Sementara tangan kanannya terus memainkan harmonika. Ia rebah di bahunya. Terbuai oleh alunan lagu yang tak ia kenal. Usai, lelaki bermata teduh meletakkan harmonika. Dua lengannya merengkuh utuh. Ia bak anak Kanguru berlindung dalam kantung induknya. Keduanya terdiam dan terpejam. Degup jantung berjalan seirama.
Awalnya kecupan dahi, lalu terbit birahi. Dekapan kian erat, hangat. Jemari lelaki bermata teduh menyusup ke dalam kaos oblong, mengusapnya lembut, hingga pori-pori mengembang. Ia menggeliat. Dua putingnya terpilin-pilin…
“Hah! Akhirnya ketemu.”
Ia terkaget-kaget. Buyar endapan memori lalu. Tahu-tahu, lelaki bermata teduh berdiri berkacak pinggang di atas batu. Ia bangkit dari rebahnya.
“Dari tadi saya, Bapak, dan Ibu kamu mencari-cari, eh, tahunya melamun di sungai. Melamun apa Imam nakal?” kata lelaki bermata teduh geregetan, sambil menowel pipinya.
“Tak apa-apa, Ustad. Tadi habis shalat Ashar ketiduran.”
“Ya udah. Sebagai hukuman, kamu harus mengumandangkan adzan Maghrib.”
“Nggak bisa, Ustad.”
“Pokoknya harus bisa.”
Ia menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal.
“Ayo, mandi di kedung sungai. Sebentar lagi surup.”
Ia meraih sajadah. Melompati lima batu besar untuk tiba di kedung sungai. Lelaki bermata teduh sudah tiba di sana. Melepaskan seluruh pakaian, telanjang bulat, lalu terjun ke kedung sungai yang airnya jernih. Lincah berenang serupa ikan. Kepalanya timbul-tenggelam di permukaan air.
“Ayo, buruan. Kok malah bengong.”
“Iya, Ustad.”
Ia mengulang hal yang sama: melepas seluruh pakaian, telanjang bulat, lalu terjun ke kedung sungai. Keduanya berenang lincah bak ikan kasmaran. Saling berkejaran, timbul-tenggelam, mengecipak air ke muka. Tawa keduanya memburai penuh bahagia.
Dari balik perdu, Bapak Imam memperhatikan keduanya. Hangat turut merambati batinnya. Senyumnya melebar. Ia terkenang kisah lalu. Kala muda, ia dan Ustad Ismail pernah melakukan hal sama. Rasa bahagia itu tak berubah. Tetap ada meski bersilang usia. Ia beringsut pulang ke rumah. Menemui istrinya yang cemas menanti.
***

Plemahan Surabaya, 20.06.2011, 08:22 PM

Oleh: Antok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: