Posted by: fsindonesia | September 6, 2011

Enam Hari di Slipi

Oleh: Kurniasari

Sebagai seorang penyuluh HAM ( human rights educator) yang telah 10 tahun bekerja di bidang pendidikan dan penyuluhan HAM, saya telah banyak berpartisipasi dalam pelatihan, baik pelatihan dasar, menengah maupun lanjutan , dan juga dalam beragam peran (baik sebagai panitia, observer, peserta, fasilitator dan juga narasumber). Dalam setiap pelatihan dan dalam beragam peran tersebut, saya selalu mendapatkan pelajaran baru yang dikemudian hari sangat berguna bagi penyempurnaan pelaksanaan pendidikan HAM ke depan.

Dalam Pelatihan Seksualitas, Kesehatan dan Hak Seksual dan Reproduksi serta Gender ini, banyak hal yang saya dapatkan. Jika saya menyimpulkannya, maka saya mendapatkan unintended ouput. Ketika mendaftarkan diri pada pelatihan ini, harapan saya adalah agar, nantinya dapat menyampaikan isu-isu tentang seksualitas, kespro dan gender dengan lebih baik, dengan mendapatkan pendalaman materi dan juga pengayaan metode-metode yang dapat digunakan dalam pelatihan-pelatihan yang akan saya selenggarakan di kemudian hari. Ternyata saya mendapatkan lebih dari yang saya harapkan, pelatihan ini telah membantu saya untuk “berdamai dengan agama saya”.

Sebagai seorang pendidik HAM dan seorang yang baru saja jatuh cinta pada Tuhannya (ya, saya percaya Tuhan itu ada), saya mengalami conflicting values. Saya ingin memperjuangkan hak-hak LGBTIQ dalam bentuk nyata yang dapat saya lakukan, yaitu dengan melakukan pendidikan dan penyuluhan yang dilakukan oleh institusi tempat saya bekerja (Komnas HAM). Dalam dalam banyak kesempatan saya selalu terbentur ketika ditanya oleh para peserta pelatihan. Salah satu yang masih teringat adalah dalam Pelatihan HAM dasar (ini adalah pelatihan wajib bagi setiap staf Komnas HAM) yang diselenggarakan pada April 2011 ini (kami menyelenggarakannya setiap tahun), salah seorang peserta bertanya: ”Mbak, Saya ingin menjadi pekerja HAM yang baik, tapi saya juga muslim yang taat, bagaimana saya dapat menghormati hak-hak LGBTIQ, kalau agama saya mengharamkannya?”. Sebenarnya jika ingin jujur …itu juga adalah pertanyaan saya…..yang baru saja belajar agama (Islam).

Dalam sesi ”Seksualitas dalam Hubungannya dengan Ideologi”…..saya menemukan jalannya…..memang bukan jawabannya…karena sesi tersebut mengantarkan saya pada sebuah jalan yang saya harapkan nantinya menuju pada sebuah jawaban. Ketika dibenturkan pada kenyataan bahwa agama adalah juga konstruksi manusia……saya –yang baru saja jatuh cinta…..menjadi takut untuk kehilangan rasa itu – saya menjadi tidak nyaman di dalam kelas, dan terpaksa keluar ruangan untuk berpikir lebih jernih. Ternyata, setelah kelas usai, banyak rekan mengalami hal yang serupa, tentu dengan beragam reaksi. Ini menunjukkan hal lain juga yang sangat saya hargai dari Pelatihan ini, adalah diskusi tidak berhenti hanya di ruang kelas…dan semua orang terlibat di dalamnya, baik para peserta dan juga fasilitator dan narasumber. Setelah proses dekonstruksi yang dahsyat itu…..(ya menurut saya memang dahsyat…) upaya rekonstruksi yang melibatkan sharing pengalaman para peserta berkaitan dengan sessi seksualitas dan ideologi sangat membantu .

Dalam pelatihan ini pula, saya menemukan, untuk berjuang bagi LGBTIQ, orang tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang baik tentang kespro, seksualitas dan gender, memiliki keterampilan yang cukup untuk membagi pengetahuan itu, namun yang jauh lebih penting adalah memiliki kecerdasan spiritual (tanpa peduli dia atheis, antitheis, atau beragama ).

Hal lain yang juga merupakan lesson learned bagi saya dalam pelatihan ini¸adalah saya belajar untuk lebih berempati pada mereka yang akan saya didik (baik dalam pendidikan dan penyuluhan). Terkadang saya merasa jengkel dan kesal jika melihat peserta yang bebal dan sulit menerima keberadaan LGBTIQ, saya sering lupa bahwa mereka juga hasil dari konstruksi sosial yang telah mengakar, baik dari institusi pendidikan, agama dan budaya.

Pada akhirnya, dapat saya katakan Pelatihan ini, telah menyentuh keseluruhan unsur kognitif, afektif dan psikomotorik saya, hal yang jarang saya temukan dalam suatu pelatihan. Bahkan tugas untuk menulis tulisan ini, telah sangat membantu saya menguraikan hal-hal yang selama ini masih menjadi dilema dalam diri saya (the conflicting values).

Lesson learned lainnya adalah saya kini beriman secara lebih kritis, ini adalah unintended output lainnya dari Pelatihan ini. Sebagai sebuah adegium, saya sudah sering mengucapkannya. Namun, benar kata orang bijak, “mengalami akan jauh lebih berguna dan berkesan dibandingkan mempelajarinya….”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: