Posted by: fsindonesia | September 6, 2011

Faktor Hormon & Kromosom dalam LGBT

Oleh: Nanda Dwinta Sari

Materi yang bagi saya sangat menarik selama pelatihan adalah ketika mempelajari mengenai LGBTIQ karena bagi saya sebelumnya tanda tanya besar kenapa seseorang bisa menjadi gay/lesbian, apa sebenarnya yang mereka pikirkan, apa perasaan mereka dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang muncul di benak saya.

Pengetahuan saya pun bertambah ketika mengikuti pelatihan dan diberikan informasi secara ilmiah bahwa penentu sex seseorang ditentukan oleh 3 faktor kromosom (ada tidaknya kromosom Y), sex gonad (ada tidaknya Testis) dan yang terakhir sex phenotypic (secondary sex differentiation: ditentukan oleh produk hormon dari gonad) informasi ini sangat menarik buat saya bahwa realitanya bagi beberapa orang ada yang mengalami sindrom (salah satu contoh adalah di mana pada laki-laki kromosomnya adalah XXY/ XXXY dan tanpa kromoson Y berarti perempuan namun bisa terjadi cross over di mana XX menjadi laki-laki dan XY menjadi perempuan) inilah yang membuka pikiran saya bahwa ada beberapa orang yang dilahirkan dengan perbedaan sex antara gonad dan fenotip dengan kromosom yang ia punya.

Ketika berbicara perilaku gay dan lesbian sangat unik dimana mereka bisa mengetahui seseorang itu gay/lesbian berdasarkan insting. Namun ada hal yang menarik buat saya ketika kami berdiskusi seorang kawan muda yang gay bercerita bahwa di suatu butik dia berbicara dengan seorang ibu yang memilihkan t-shirt ungu untuk anaknya karena anaknya menyukai warna ungu dan menyukai justin beiber seoarang penyanyi remaja dari amerika dan teman gay saya ini serta merta mengasumsikan anak ibu tersebut memiliki kecenderungan gay, hal ini yang sempat menjadi pemikiran saya, dimana dalam pelatihan kita disarankan untuk “assume nothing” jangan berasumsi apapun saya setuju dengan pendapat ini karena bagi saya menentukan sesorang gay tidak bisa hanya melihat warna baju yang dia suka, sebaiknya kita pun memberikan kebebasan bagi mereka yang heteroseksual untuk menyukai warna atau apapun yang mereka sukai.

Hal lainnya yang tidak kelah menarik adalah hal yang saya pelajari bukan hanya terbatas pada kesehatan reproduksi namun sangat luas yaitu kesehatan seksualitas, hal ini yang menjadi pemikiran tersendiri bagi saya karena faktanya kebijakan seputar seksualitas tetap terbatas pada fungsi reproduksi, dan tetap saja sangat sulit melakukan pergeseran paradigma untuk memasukkan fungsi non-reproduksi (inilah tantangannya). Hal ini paling jelas terlihat dari tidak adanya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan seks yang lengkap dan menyeluruh bagi remaja; masih terbatasnya diskusi seputar seksualitas dan kenikmatan sebagai suatu hak; dan tidak adanya pengakuan terhadap konsep perkosaan dalam perkawinan serta pelecehan seksual, peran seks sebagai pekerjaan, dan juga hak seksual dan reproduksi dari kaum LGBTIQ.

Di samping itu, mengingat hak asasi manusia, hak seksual dan hak reproduksi merupakan hak semua orang, maka pemangku kepentingan harus mengupayakan agar kaum remaja, kelompok-kelompok perempuan yang terpinggirkan, dan juga kaum LGBTIQ mempunyai kesempatan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan seksualitas.

Hal yang lainnya yang menarik adalah mengubah norma-norma maskulinitas, dan memastikan agar kebijakan publik dapat mengoreksi definisi budaya mengenai maskulinitas dan femininitas tradisional yang menghalangi kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan berbasis gender serta hak seksual LGBTIQ.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: