Posted by: fsindonesia | September 6, 2011

Pengalaman Pertamaku

Oleh: Nurlaila

Pusing, bingung, takut…itu yang kurasakan saat ada sebuah ajakan untukku sebuah pelatihan KESPRO bekerjasama dengan Mitra Inti yang berlokasi di salah satu hotel di kawasan Jakarta. Berbekal “Nekat” aku berangkat dari daerah asalku sebuah kota di Cirebon. Di awal sesi perkenalan, dipandu oleh salah satu fasilitator dan narasumber kami mulai memperkenalkan diri masing-masing, ada berbagai latar belakang masing-masing peserta, mulai dari latar belakang pendidikan dan agama, semua berbaur. Sungguh ini adalah sebuah pengalaman pertama yang sangat unik dan menarik. Betapa tidak, aku harus duduk dalam satu ruangan dengan bermacam-macam background, dari yang berjenis kelamin laki-laki, perempuan, kaum lesbi, gay, waria, dari yang beragama Islam, Kristen, bahkan Atheis dan Agnostik. Yang heteroseksual ataupun yang homoseksual.
Kumulai perjalananku mengubah sebuah perspektif dalam sebuah pelatihan yang sungguh berwarna dalam kehidupanku. Ada banyak cerita di sana, ada banyak pengalaman yang kudapat, walau harus diiringi dengan tawa dan airmata.
Aku terlahir dari sebuah keluarga dengan doktrin agama yang sangat kuat, yang selama ini kuyakini bahwa agamaku di atas segala-galanya, dan agamaku adalah yang paling benar. Di atas keegoisanku, aku menentang keras LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transeksual) karena menentang takdir dan ketentuan yang sudah digariskan Tuhan. Atas nama Agama itu dalihku.

Sungguh sangat tidak adil bagiku, bila menjustifikasi seseorang berdasarkan ras, etnik, budaya tertentu. Salahkah seseorang bila harus memilih identitas dirinya yang padahal sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Ia lahir dengan berjenis kelamin laki-laki, tapi kemudian orientasi seksualnya berbeda dengan nuraninya..? apakah ketika seseorang berada dalam kandungan seorang ibu, dia bisa memilih untuk dilahirkan sebagai laki-laki ataukah perempuan? Dan apakah ada pilihan bahwa dia akan dilahirkan di Negara, suku apa yang ia kehendaki…?
Ada rasa keingintahuanku mengusik dalam benakku saat aku harus berkenalan dengan teman-teman dengan latar belakang yang berbeda, salah satunya adalah seorang yang homoseksual, dia seorang gay.
Suatu malam, ketika kami duduk-duduk sambil menikmati makan malam di restorasi sebuah hotel di mana kami menginap, aku mencoba bertanya pada salah satu teman gay, aku mencoba bertanya padanya, mungkin bagiku, 4 hari adalah waktu yang sudah cukup bagiku untuk kami saling berbagi, terlepas dari mana kami berasal, kami sudah merasakan kedekatan kami, kami merasakan bahwa dia adalah teman kami, bagian dari rasa persaudaraan yang dipupuk di antara kami. Kami sudah merasa saling percaya dan merasakan ada ikatan yang membuka sekat-sekat di antara kami. Dua pertanyaan sangat sederhana yang terlontar dari bibirku saat itu. Kenapa kamu memilih sebagai seorang gay..? sejak kapan kamu mulai menyadari bahwa kamu adalah seorang gay…? Tanpa kubayangkan sebelumnya dia merespons semua pertanyaan sederhanaku. “mau tahu…? Yuk kita cerita-cerita di kamarmu…”. Aku terbelalak, aku tahu bahwa pertanyaanku adalah hal yang bersifat pribadi, tidak layak bila harus dibicarakan di restorasi yang sudah barang tentu banyak mata dan telinga yang akan menyaksikan. “Oke”. Akhirnya kata itu yang terlontar dari bibirku dengan catatan aku bisa mengajak salah satu teman perempuanku, karena ada rasa yang berkecamuk dalam batinku bila harus satu kamar dengan teman gayku, inilah kali pertama aku berinteraksi dengan teman selain jenis yang berbeda. Akhirnya kamipun menyepakati.
Dari situ aku mulai tahu bagaimana kehidupan seorang gay, bagaimana orang-orang terdekatnya akhirnya menerima dia sebagai seorang gay, banyak sekali informasi yang bisa aku gali, ada banyak ilmu yang aku dapat. Sedikit pertanyaan nakalku, bagaimana cara seorang gay bisa memuaskan partnernya, apa sajakah alat yang bisa digunakannya sebagai pengaman dan tanpa mengandung efek negatif . Apa yang dia rasakan…? Aku sangat berterimakasih sekali atas segala informasi yang telah dia berikan, dia menghadiahiku dengan kondom dan sebuah alat pelumas sachet. Meskipun untuk saat ini bukan untuk aku coba, tapi setidaknya aku juga ingin tahu seperti apa bentuk dan modelnya. Atau bahkan suatu saat nanti, akupun bisa mencobanya. Entahlah…
Yah….Tuhan menciptakan manusia beraneka-ragam, siapapun individunya dia tetaplah seorang manusia yang harus dihargai, kita tidak pernah tahu meskipun seseorang dengan tingkat ibadah yang sangat tinggi, taat beribadah, apakah menjamin bahwa dia 100% sebagai seorang yang berhak masuk surga. Kita tidak pernah tahu, keadilan hanya milik Allah Tuhan semesta alam. Murni semata-mata hanya milik Tuhan. Manusia hanya berusaha, Tuhanlah pemilik mutlak hak kebijakan.
Hidup ini adalah sebuah pilihan, kita tidak pernah tahu kemana keimanan kita kan bermuara, hanya saja kita berharap diakhir kehidupan kita, kita tetap selalu diberikan keyakinan dan keimanan, selalu diberikan petunjuk kebenaran dan dikemudian hari kelak kita mendapatkan balasan terhadap apa yang kita dambakan. Hak paten kebenaran bukanlah diukur dari kelas manusia, adalah Tuhan segala penentu kebijakan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: