Posted by: fsindonesia | September 6, 2011

Shocking Things

Oleh: Eka

Kalau saya ditanya hal apa yang membuat shock di pelatihan seksualitas, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi serta gender saya jadi bingung juga menjawabnya. Kalau saya pribadi banyak informasi baru berkaitan soal medis yang saya dapatkan tapi tidak terlalu shock juga sih karena ilmu pengetahuan kan memang selalu berkembang.
Kemungkinan seorang laki-laki menyusui memang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya tapi dengan segala kemajuan teknologi saat ini saya kira itu memang bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Bahkan saya jadi berpikir liar mungkin suatu hari nanti supaya mendapat anak yang cakap dan pintar, reproduksi tanpa perlu berhubungan seksual dengan memilih DNA-DNA yang berkualitas terbaik dari seorang laki-laki dan perempuan. Yah namanya juga berimajinasi liar……
Selanjutnya penggunaan alat kontrasepsi hormonal yang terus-menerus ternyata tidak baik bagi kesehatan. Wah jadi berpikir harus cepat-cepat memberi tahu tante mapupun teman-teman saya nih. Memang ya, dari dulu perempuan itu selalu dijadikan korban di budaya patriarki. Perempuanlah yang selalu dicekoki bahkan tidak sedikit dipaksa menggunakan alat kontrasepsi hormonal, sedangkan laki-laki tidak pernah atau sangat jarang sekali dipaksa menggunakan kondom. Patriarki….patriarki…….sudah sangat merasuk di segala aspek kehidupan untuk membatasi perempuan.
Saya juga dapat informasi kalau sekarang di Puskesmas Tebet ada poli konsultasi tentang kesehatan reproduksi dan katanya dijaga kerahasiaannya. Wow, ini baru kejutan yang menyenangkan. Selama ini memeriksakan kesehatan organ reproduksi hanya menjadi “milik” pasangan suami istri saja. Bagaimana tidak, ketika ingin memeriksakan kesehatan organ reproduksi akan langsung ditanya nama suami. Kalau dijawab belum menikah pasti sudah langsung distigma macam-macam. Pengalaman ini terjadi ketika saya mengantar teman saya ke klinik karena sudah enam bulan tidak menstruasi. Karena di klinik swasta petugas memang tidak terlalu ambil pusing dengan calon pasien yang mendaftar, walau mungkin masih suka berkomentar kalau pasiennya sudah pergi. Tapi coba kalau seorang perempuan yang belum menikah ke rumah sakit pemerintah atau puskesmas untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan, petugas pasti sudah akan banyak berkomentar dan menstigmatisasi perempuan nakal lah, ga perawan lah, dan sebagainya. Itulah realita di masyarakat kita, suka mencampuri hak dan privasi orang lain, mendewa-dewakan moral tapi tak segan juga melakukan premanisme dan menganggap seks sangat tabu untuk dibicarakan. Padahal setiap perempuan baik menikah maupun belum menikah memiliki hak yang sama atas pelayanan kesehatan organ reproduksi serta hak atas akses informasi yang sama berkaitan dengan organ reproduksi.
Hal ini membuat saya berpikir pendidikan seks bagi masyarakat itu sudah merupakan tindakan yang harus segera dilakukan. Alumni pelatihan ini diharapkan dapat melakukan pendidikan tentang seksualitas, kesehatan dan hak reproduksi dan seksual serta gender di komunitasnya. Semoga saja bisa menjadi getok tular berangkangkat dari komunitas yang kecil namun harapannya bisa menyebar ke masyarakat yang lebih luas lagi.
Kita juga perlu berdiskusi dengan kementrian kesehatan untuk memasukkan tema ini ke dalam kurikulum pendidikan. Harapannya tidak hanya sebatas pengenalan tapi juga bisa lebih mendalam dan mungkin dilakukan secara berjenjang (bagi pelajar SD, SMP, SMA dan mungkin mahasiswa). Tapi sebelum mereka diajak berdialog mereka diberi pelatihan dulu kali ya biar tidak salah paham. Saya suka heran mendengar komen bahwa memberikan pendidikan seks berarti mengajarkan untuk melakukan hubungan seksual secara bebas. Waduh, sempit sekali pemikiran yang seperti ini. Parahnya pemikiran yang sempit inilah yang masih banyak ada di kepala-kepala aparat pemerintah. Kalau orang muda akan berkomentar : capek deh…..
Masih soal bagaimana alumni ini nantinya melakukan pendidikan di komunitasnya, saya sangat berharap bisa segera dibuat group tertutup di facebook untuk ajang kita sharing pengalaman. Mohon dimaklumi saya kan bukan dari kalangan medis jadi khusus soal kesehatan reproduksi masih butuk waktu untuk menghapal semua organ, penyakit dan lain-lainnya itu. Kalau bisa disharing pertanyaan-pertanyaan apa yang sering muncul berkaitan dengan kespro.
Pelatihan ini menginspirasi untuk membuat pendidikan dulu di lingkungan kantor (internal) dan teman-teman dekat. Kebetulan juga dalam waktu dekat memang akan ada pelatihan untuk aparat mengangkat isu LBGT, jadi pas sekali setelah pelatihan langsung mempraktekkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: