Posted by: fsindonesia | September 6, 2011

YANG MENARIK DALAM PELATIHAN SEKSUALITAS, GENDER, KESEHATAN SERTA HAK SEKSUAL DAN REPRODUKSI

Oleh: Fahmi

Peserta pelatihan seksualitas, gender, kesehatan serta hak seksual dan reproduksi yang dilaksanakan pada tanggal 30 Mei – 4 Juni sangat beragam, tidak hanya berasal dari komunitas atau teman-teman yang selama ini bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tetapi melibatkan institusi pemerintahan dalam hal ini perwakilan dari kementrian kesehatan, BKKBN, dokter-dokter, bidan-bidan. Karena beragamnya peserta, diskusi berlangsung sangat cair, baik dari fasilitator maupun dari peserta saling melengkapi informasi yang dimiliki sesuai dengan keahliannya masing-masing sehingga muncul informasi-informasi baru yang selama ini belum pernah didapatkan.
Ada satu sessi yang sangat menarik menurut saya adalah ketika bicara tentang seksualitas dibenturkan dengan nilai-nilai agama, budaya dan ideologi. Untuk pembuka, pada sessi awal fasilitator mencoba membuka pola pikir peserta dengan melontarkan beberapa pemahaman yang menurut sebagian peserta sulit diterima ketika karena tidak sesuai dengan ideologi yang selama ini diyakini. Setelah itu peserta diminta sharing pengalamannya berdasarkan apa yang dirasakan setelah mendapatkan materi tersebut. Ada beberapa peserta yang meneteskan air mata, bahkan ada yang sampai sulit menyampaikan kata-kata karena bercerita sambil menangis karena mengannggap apa yang selama ini telah mereka yakini tiba-tiba dalam hitungan menit bisa luntur, tetapi sebagian yang lain menganggap materi yang diberikan biasa saja karena pernah mendapatkan materi serupa sebelumnya, baik di bangku perkuliahan ataupun di beberapa kegiatan yang lain.
Untuk mengukur sejauh mana pemahaman dan penerimaan diri peserta terhadap seksualitas dalam hubungannya dengan ideologi, fasilitator meminta peserta menjawab dua pertanyaan tertutup. Pertama, apakah LGBT itu menyimpang secara pengetahuan ? dari 19 peserta 1 orang menjawab ya dan 18 orang menjawab tidak. Kedua, apakah LGBT itu dosa ? dari 19 peserta 1 orang menjawab ya 13 orang menjawab tidak dan 5 orang tidak menjawab alias ragu-ragu (abstain).
Setelah fasilitator mendapati angka yang lumayan besar dari peserta bahwa LGBT tidak berdosa, fasilitator mengeluarkan beberapa dalil (Al-Qur’an dan Hadits) yang ketika diartikan secara tekstual akan membuat orang berfikir bahwa LGBT itu dosa, akan dilaknat dan sebagainya. Tetapi setelah dilakukan klarifikasi bahwa penerjemahan teks harusnya tidak hanya secara tekstual tetapi harus melihat sejarah dibalik turunnya ayat atau hadits tersebut, alasannya dan tata bahasanya sehingga tidak menghasilkan pemaknaan yang sempit dan tidak kontekstual.
Peserta perlahan-lahan mulai dapat menerima apa yang disampaikan fasilotator di awal sessi, sehingga tidak ada lagi kebingungan yang tersisa dalam benak peserta seperti yang terjadi pada sessi awal sebelum dilakukan klarifikasi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: