Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Cantik itu Palsu

Pendahuluan
Kecantikan merupakan sebuah pemaknaan yang identik dengan tubuh perempuan. Perempuan yang cantik selalu dilekatkan dengan idealisisai bentuk-bentuk tubuh perempuan seperti wajah, rambut, kulit hingga payudara. Meskipun harus mengeluarkan biaya yang mahal, waktu yang tidak sedikit bahkan risiko kesehatan yang besar, kebanyakan perempuan cenderung tetap melakukan cara-cara untuk mencapai ‘normalisasi’ tubuh tersebut. Inilah yang menjadi kajian Dr. Iwu Dwisetyani Utomo dalam artikelnya yang berjudul ‘Bila Kulit Putih dan Bibir Tipis Menjadi Ukuran’. Dalam tulisan tersebut, perempuan dalam fenomena cantik yang konstruktif telah menjadi sebuah trend yang sulit untuk dibendung. Perempuan sebagai subjek seolah sudah kehilangan ruang untuk menentukan dirinya dalam berpenampilan. Segala sesuatu sudah ada ketentuannya, ukuran hingga cara-cara yang mesti ditempuh. Dalam fase ini perempuan tentu saja telah menjadi objek ritual yang dijalani tanpa sadar.
Deborah Lupton mengatakan bahwa tubuh merupakan metafor bagi organisasi dan kegelisahan sosial yang merupakan bidang utama dari kegiatan kebudayaan dan politik (Lupton:1994;dalam Irwan Abdullah:2001). Kelompok tertentu yang terangkum dalam institusi memiliki kuasa untuk menertibakan, mengendalikan tubuh tersebut. Sementara bagi Judith Butler subjek perempuan tidak ada di luar diskursus, ia bukalah sebuah awalan, melainkan dibangun dalam dan oleh diskursus. Identitas perempuan adalah sebuah praktik bukan sebuah pemberian. Diskursus inipun lahir dari sebuah pertauatan dan persinggungan yang direproduksi secara terus menerus. Sehingga keagenan ada bukan karena kualitas dari aktor melainkan karena ada variasi dalam diskursus. Jadi antara subjek dengan agen memiliki sebuah relasi yang saling menguatkan (Ritzer:2009:319).

Media Anti Netral
Oleh karena itu, media merupakan salah satu agen yang strategis dalam melakuan sebuah reproduksi terhadap konstruksi kecantikan, tubuh maupun pembagian peran-peran antara laki-laki dan perempuan. Media memiliki posisi yang cukup kuat sebagai distributor pengetahuan yang dinikmati bahkan dikonsumsi oleh masyarakat secara terus menerus. Melalui berbagai peragaan iklan dan tayangan-tayangan teleivisi media tentu memiliki keberpihakan terhadap pemilik modal. Sementara para pemilik modal yang cenderung memiliki muatan ideologi patriarkhi tentu lebih banyak menjadikan perempuan sebagai komoditinya. Banyak produk-produk yang berkaitan dengan tubuh perempuan yang ditawarkan juga penggunaan model perempuan yang selalu menampilkan citra kecantikan perempuan dari sisi kulitnya yang putih, tubuhnya yang langsing, rambutnya yang lurus, payudara yang ‘sempurna’, dan seterusnya.
Masyarakat terutama perempuan seolah menjadi tidak berdaya dengan produksi media yang terjadi hampir setiap hari dan setiap detik. Hal ini seperti bahwa sudah seharusnya menjadi perempuan cantik adalah seperti tayangan yang sedang dikonsumsi tersebut. Tanpa sadar pikiran mereka sudah terasuki oleh idealisasi-idealisasi, di mana hal tersebut dikatikan dengan simbol-simbol bahwa perempuan yang demikian akan lebih banyak menarik perhatian pria, lebih berpotensi memperoleh kesetiaan suami, serta lebih layak untuk masuk dalam ranah-ranah publik yang menghasilkan.
Dalam konteks feminitas dan seksualitas perempuan dalam iklan (media), tubuh perempuan dikonstrusi untuk menyesuaikan dengan selera pasar, yang dalam hal ini pasar adalah kuasa yang menentukan apakah bentuk seksualitas dan feminitas tertentu beterima atau tidak. Dalam tataran personal, kuasa dipegang oleh calon suami, pacar atau suami. Namun dalam tatanan global, feminitas dan seksualitas perempuan mengacu pada penanda perempuan yang direpesentasi oleh perempuan kulit putih, kelas menengah yang relatif terdidik (Aquarini P:2006:325).

Catatan Refleksi
Kecantikan seharusnya memang menjadi kepemilikan yang penuh bagi perempuan. Seperti halnya ketampanan akan sangat selaras jika disandingkan dengan keberadaan laki-laki. Namun konstruksi sosial yang berkembang justru lebih sering menjadikan kecantikan maupun ketampanan tersebut sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan. Berbagai hal yang ditentukan oleh kelompok-kelompok dominan tampaknya sulit untuk dicapai mengingat manusia itu beragam karena memiliki latar belakang sosial budaya yang beragam. Namun standar-standar tersebut seolah harus dikejar dengan cara apapun agar tidak tersingkir dari ranah sosial di mana mereka tinggal. Layaknya sebuah candu, pemenuhan tersebut hanya untuk sebuah kepalsuan karena hanya menyembuhkan kesakitan yang sesaat namun tidak pernah menyelesaikan kesakitan yang sesungguhnya.

Referensi

  • Aquarini Priyatna, 2006, Kajian Budaya Feminis : Tubuh, Sastra dan Budaya Pop, Jalasutra, Yogyakarta
  • George Ritzer, 2009, Teori Sosial Post Modern, Jalasutra, Yogyakart
  • Irwan Abdullah, 2001, Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, Tarawang, Yogyakarta
  • Michel Foucault, 2008, Ingin Tahu Seksualitas, Yayasan Obor Indonsia, Jakarta
  • Naomi Wolf, 2004, Mitos Kecantikan, Niagara, Yogyakarta
  • Stevi Jackson, Jackie Jones, 2009, Teori-teori Feminis Kotemporer, Jalasutra, Yogyakarta

 

Oleh : Desintha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: