Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Diskriminasi GENDER di Dunia Medis

Setiap orang yang hidup di dunia ini, pasti ingin menjalani kehidupan ini dengan memiliki tubuh yang sehat. Ada banyak orang melakukan usaha untuk sehat sejak ia hamil. Saat seorang ibu hamil, si Ibu ini mendambakan janin yang ada di dalam rahimnya itu sehat. Bertumbuh dan berkembang dengan normal dan sehat. Berbagai cara dan usaha bisa dilakukan seorang ibu yang hamil untuk mendapatkan anak yang akan dilahirkan itu sehat. Salah satu usaha misalnya si Ibu selama hamil mengkonsumsi makanan yang sehat, minum susu ibu hamil, dan lain sebagainya. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera, sempurna fisik, mental dan sosial yang tidak hanya terbatas pada bebas dari penyakit atau kelemahan saja. (Definisi sehat menurut WHO). Sedangkan definisi sehat menurut UU No 23 tahun 1992 Sehat adalah Suatu keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Jika dilihat dari definisi sehat menurut UU No.23 tahun 1992 bahwa ketika orang tidak sehat maka ini akan berpengaruh dalam pekerjaannya. Artinya orang tersebut tidak bisa bekerja lagi atau ketika dia bekerja tapi dalam keadaan tubuh yang sering sakit-sakitan, maka produktifitas kerja dari orang tersebut akan menjadi tidak maksimal. Penghasilannya bisa tidak maksimal, atau upah yang akan orang itu terima akan berkurang, belum lagi ditambah dengan biaya kesehatan yang harus dia keluarkan.

Dalam tubuh manusia itu terdiri dari macam – macam organ tubuh dan sistem. Ada Sistem Pernapasan, sistem saluran pencernaan, sistem saluran kemih, sistem reproduksi, sistem saraf dan sistem jantung dan pembuluh darah. Semua sistem di tubuh manusia ini akan bekerja dengan fungsinya masing – masing. Kita mengenal sistem reproduksi yang erat kaitannya dengan fungsi seksual dan reproduksi.

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat jasmani , rohani dan sosial dan bukan sekedar tidak adanya penyakit atau kecacatan dalam hubungannya dengan sistem reproduksi. Kesehatan Reproduksi diartikan bahwa kehidupan seksual seseorang dapat terpuaskan dan aman, mereka mempunyai kemampuan untuk bereproduksi dan bebas untuk memutuskan seberapa sering melakukannya.

Pada kenyataannya sering orang mengabaikan kesehatan reproduksinya. Ini bisa diakibatkan karena mereka belum tahu gejala dan tanda – tandanya atau mereka sudah tahu tapi mereka takut untuk memeriksakan diri mereka atau mereka malu atau mereka tidak punya uang untuk biaya kesehatan mereka.

Dalam unit layanan yang terkecil seperti Puskesmas yang pada umumnya sering kita jumpai hanya gender perempuan atau laki saja yang datang memeriksakan kesehatan diri mereka. Sedangkan gender – gender lainnya seperti LGBTI masih kurang memanfaatkan layanan – layanan kesehatan ini. Yang menjadi permasalahan disini adalah mungkin sebagian masyarakat di daerah atau kota atau wilayah tertentu masih mendiskriminasikan gender LGBTI. Contoh konkrit yang bisa kita temukan di kehidupan sehari – hari misalnya dalam sebuah klinik swasta ketika gender LGBTI datang memeriksakan infeksi menular seksual dan pada jam yang sama ada juga gender perempuan yang datang, dan bentuk diskriminasi yang bisa kita lihat antara lain mereka bisa tidak jadi untuk diperiksa, bisa juga mereka meminta tempat periksa disendirikan atau dipisah, atau dengan sikap dan cara mereka memandang gender LGBTI ini sudah menjadi satu bentuk ekspresi penolakan yang tanpa mereka sadari ini sudah mendiskriminasikan gender LGBTI. Ketika gender LGBTI merasa kurang nyaman ditempat layanan itu maka dia tidak mau lagi datang untuk memeriksakan diri mereka meskipun itu mereka sudah tahu bahwa mereka sudah harus mendapat pengobatan sehubungan dengan infeksi menular seksual yang mereka alami.

Sehat bukan hanya milik sekelompok orang atau gender laki atau perempuan saja tapi sehat itu juga adalah milik semua gender – gender yang ada termasuk gender LGBTI. Janganlah kita sebagai masyarakat atau petugas kesehatan di tempat layanan – layanan kesehatan memperlihatkan sikap yang mendiskriminasikan gender LGBTI.

 

Oleh : Dr. Agnita Umbol


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: