Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Hegemoni dalam Pernikahan

Hidup di negara dengan budaya patriarkial dan heteroseksime seperti Indonesia sangat menantang bagi individu dengan status lajang. Tantangan tersebut jauh lebih besar lagi untuk manusia yang secara biologis merupakan betina, bergender perempuan atau transgender, dan berada di usia reproduksi. Masyarakat dan negara seakan-akan merasa paling berhak menentukan nasip bagi seorang bentina, perempuan atau transgender. Perempuan dipandang sebagai asset produktif bagi negara dan masyarakat yang berguna untuk menghasilkan sumber daya manusia baru untuk roda industrialisasi. Untuk itu, masyarakat dan negara merasa perlu untuk mengatur perkawinan yang ideal yang biasanya ditandai dengan pasangan laki-laki dan perempuan; pernikahan di usia reproduksi; mampu beranak dua; langgeng hingga tua; berkecukupan ekonomi yang ditandai dengan kepemilikan rumah; mobil, dan perabotan rumah tangga.

Pernikahan merupakan pembicaraan yang niscaya menjadi topik utama bagi perempuan usia dewasa muda. Baik di lingkungan keluarga, pertemanan, bahkan sampai pekerjaan semua berlomba-lomba menjodohkan. Alasan yang banyak dikemukakan biasanya, “Mumpung masih muda nanti kalau sudah tua susah hamilnya”, “Nanti tidak ada yang mau dan jadi perawan tua”, “Orang tua ingin menimang cucu”, “Menikah itu menyempurnakan agama”, “Biar orang tua lega karena anaknya sudah menikah semua”. Semua alasan tersebut memberikan label perempuan sebagai seseorang yang tidak utuh, tidak lengkap, dan tidak laku jika tidak menikah.

Sebelum pernikahan perempuan dituntut untuk menjaga keperawanannya yang dianggap harta paling berharga bagi martabat perempuan dan keluarganya. Keperawanan ini ditandai dengan keluarnya darah saat malam pertama berhubungan seks dengan suaminya. Akibatnya banyak perempuan yang merasa tertekan saat malam pertama melakukan hubungan seks dan tidak dapat menikmati prosesi tersebut. Banyak dari perempuan tidak tahu bahwa selaput dara tidak memiliki pembuluh darah sehingga saat robek pun tidak akan menimbulkan perdarahan. Bahwa darah tersebut disebabkan gesekan penis dalam liang vagina yang belum dipersiapkan. Secara alami, jika perempuan sudah merasa terangsang dan sudah siap menerima penis di liang vaginanya, maka kecil kemungkinan terjadi perdarahan. Namun apakah fakta ini banyak diketahui perempuan Indonesia? Jawabannya tentu tidak.

Di sisi lain, untuk makin menajamkan hegemoni dalam pernikahan, agama pun memberikan nilai pernikahan sebagai sesuatu yang suci dan sakral dengan mengatur prosesi pernikahan. Untuk itu, pernikahan pun dilakukan oleh penghulu atau pendeta dari agama tertentu. Namun, kembali lagi jika dianggap suci mestinya kita toleh ke dalam diri penghulu atau pendeta tersebut, apakah orang tersebut cukup suci untuk berperan sebagai perantara pernikahan sacral tersebut. Peran budaya dalam pernikahan tidak ketinggalan, hal ini ditunjukkan melalui bergam ritual yang dipengaruhi nilai-nilai tradisional maupun modern. Ritual-ritual ini bernafaskan penyerahan jiwa dan raga seorang perempuan kepada calon suaminya. Ritual-ritual ini pun tentunya tidak lepas dari pengaruh kapitalisme, dimana calon mempelai tidak jarang mengabiskan biaya yang sangat besar untuk perhelatan tersebut. Mulai dari cincin pernikahan, gaun pengantin, riasan pengantin, sewa gedung, konsumsi, bulan madu dan lainnya. Akibatnya persiapan ekonomi lebih diutamakan oleh kedua mempelai dan juga keluarga. Di mata masyarakat, banyaknya undangan, banyaknya barang bawaan (seserahann), kemeriahan pesta, enaknya makanan, indahnya gaun pengantin dan riasan menjadi lambang kesusesan pesta perkawinan. Pada akhirnya pernikahan dianggap sebagai penyatuan dua keluarga, bukan dua individu. Sehingga peran keluarga sangatlah besar, baik sebelum pernikahan sampai pada kehidupan pernikahan yang kemudian banyak menjadi sumber konflik bagi pasangan menikah.

Kehidupan setelah pernikahan pun tidak selalu berjalan lancar. Konsep sempit tentang pernikahan sebagai ajang prokreasi (menghasilkan keturunan) menjebak perempuan pada lubang yang lebih dalam. Semua ini dimulai sejak malam pertama hubungan seks dengan suami. Banyak perempuan yang belum pernah merasakan kenikmatan seksual namun terpaksa harus merelakannya dikarenakan kehamilan. Hanya butuh waktu satu dua bulan bagi beberapa perempuan untuk mengalami kehamilan. Dengan kehamilan, kesenangan meliputi hati semua orang baik pasangan menikah tersebut, keluarga keduanya, bahkan masyarakat. Berbagai upacara dilakukan dengan tujuan mendoakan calon jabang bayi agar lahir dengan selamat dan sehat, namun jarang sekali ditujukan untuk mendoakan kesehatan dan keselamatan ibu. Kehamilan dan persalinan menjadi waktu paling kritis bagi seorang perempuan selama masa hidupnya, jika tidak dipersiapkan secara fisik dan psikis, serta ditunjang oleh akses ke pelayanan dan tenaga kesehatan maka kematian bisa mengintai kapan saja. Kenyataan menunjukkan bahwa di Indonesia, nyawa perempuan masih dianggap tidak berharga dengan tingginya angka kematian ibu akibat kehamilan dan persalinan Sebanyak 228 perempuan meninggal setiap 100.000 kelahiran bayi dalam keadaan hidup (SDKI). Banyak dari perempuan ini yang sebenarnya bisa diselamatkan, namun lambatnya pengambilan keputusan yang didasarkan pada keluarga laki-laki menyebabkan mereka tidak tertolong.

Peristiwa persalinan merupakan awal bagi keputusan-keputusan penting selanjutnya. Antara lain keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi, baik dengan tujuan menjaga jarak atau membatasi jumlah anak. Lagi-lagi tubuh perempuan yang menjadi objek demi kesejahteraan keluarga. Perempuan dipaksa untuk memilih beragam alat kontrasepsi yang paling sesuai dengan dirinya, tanpa mengesampingkan bahwa masing-masing alat kontrasepsi mungkin memiliki efek untuk tubuhnya. Lalu bagaimana peran pria dalam penggunaan alat kontrasepsi? Kenyataanya banyak pria menganggap bahwa kontrasepsi merupakan komoditas perempuan. Banyak dari mereka yang enggan menggunakan kondom atau melakukan vasektomi padahal sudah tidak lagi menginginkan anak.

Selama kehidupan perkawinan, perempuan dituntut untuk tunduk pada laki-laki yang dianggap sebagai aturan agama yang niscaya. Laki-laki diberikan posisi sebagai pemimpin keluarga dan rumah tangga baik secara sosial maupun ekonomi. Akibatnya perempuan tidak memiliki posisi tawar untuk dalam pengambilan keputusan terkait dengan keluarga, rumah tangga, bahkan dirinya sendiri. Pada kenyataanya, banyak laki-laki yang merasa terbebani dan tertekan dengan posisi pempimpin keluarga dan rumah tangga. Pada saat inilah kemudian kesempatan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga terjadi. Banyak perempuan merasa bahwa kekerasan dalam rumah tangga sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah sehingga tidak perlu ada tindakan pengaduan yang disertai konseling dan lainnya. Akhirnya hal ini membawa perempuan ke dalam siklus kekerasa sepanjang pernikahannya.

Kematian pasangan dan perceraian, menjadi tantangan besar bagi perempuan. Hal antara lain dikarenakan, perempuan yang selama pernikahan hanya mengemban pekerjaan domestic dihadapkan pada beban ekonomi dan sosial demi menghidupi keluarganya. Perempuan janda mati atau cerai pun mendapatkan label yang kebanyakan negatif dan dianggap tidak pantas untuk menikah lagi, apalagi dengan laki-laki yang lebih muda. Hal ini tentunya berbeda dengan duda mati atau cerai karena keluarga dan masyarakat pasti akan berbondong-bondong menawarkan pasangan baru, tidak jarang jauh lebih muda.

Pada akhirnya, pernikahan merupakan hegemoni yang ditetapkan pihak berkuasa, dalam hal ini laki-laki terhadap yang dikuasai, dalam hal ini perempuan melalui penanaman nilai-nilai pernikahan dalam diri setiap individu oleh masyarakat yang partiarkial dan heteroseksime. Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana perempuan dan laki-laki terlepas dari hegemoni pernikahan ini? Salah satunya dengan memberikan informasi yang lengkap tentang seksualitas sehingga setiap orang bisa mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan tepat, termasuk dalam hal pernikahan.

 

Oleh : Fita Rizki Utami


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: