Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Jangan Tanya Kapan Saya Menikah!

Ini adalah salah satu hal yang paling tidak saya suka. Hampir semua orang mulai dari tetangga, rekan kerja, teman semasa kuliah atau SMA, bahkan anak-anak tetangga menanyakan hal itu. Mereka yang tidak kenal atau baru pertama bertemupun menanyakan hal yang sama, seolah menikah adalah seperti mawar yang pasti berbunga pada saatnya. Pun tak semua mawar pada akhirnya berbunga.

Saya bukan tidak suka terhadap Bapakku. Saya bangga karena dia adalah sosok yang bisa mengayomi keluarga sebisa dia. Menerima meski kadang sikap kasarnya terlalu berlebihan sehingga menggunakan cara-cara fisik untuk menunjukkan kekuasaannya. Satu hal yang paling saya ingat pada masa kecil adalah saat Bapak melempar sebuah tang pada punggung Mama. Berada persis di belakang Mama waktu itu, tang itu hampir menimpa saya setelah terpental dari punggungnya. Tidak ingat apa yang mereka bicarakan saat itu hingga membuat Bapak marah. Yang jelas saat mereka ngobrol Bapak sedang memperbaiki salah satu perkakas kerjanya.

Apa yang Bapak, Mama, dan saya alami diatas tentunya bukan hal yang aneh. Dapat dengan mudah kita temui seorang perempuan yang menjerit kesakitan karena ditampar, dipukul, diinjak, atau bahkan disiksa oleh suaminya. Dan kita hanya bisa diam, karena mengganggap bukan urusan kita. Perempuan itu adalah istrinya sendiri, “milik” dari lelaki yang menghajarnya. Sakitnya fisik dan mental perempuan ada ditangan suaminya, dan itu adalah hal wajar, biasa, dan bahkan tidak disalahkan.

Entah sejak kapan saya menanyakan kenapa setiap orang harus menikah? Apakah memang setiap orang ditakdirkan untuk menemukan jodohnya dalam sebuah pernikahan? Dan kenapa pula Tuhan menyuruh umatnya menikah jika tidak membuat mereka bahagia?

Jika pernikahan adalah ibadah, saya anggap itu adalah ibadah yang menghalalkan kekerasan terhadap perempuan. Ibadah dalam rangka menundukkan perempuan. Ibadah yang menghalalkan perkosaan dan memiliki perempuan dengan sebuah kartu nikah seharga satu atau dua ratus ribu rupiah.

Tidak menikah bukan suatu hal yang baru dalam keluarga besar saya. Seorang Om dari Bapak tidak menikah sampai meninggal pada usia 47 tahun. Ada Tante yang selalu tampil tomboy, maskulin, dan belum menikah hingga sekarang berusia 53 tahun. Keluarga tidak pernah menanyakan kenapa tidak menikah, atau bahkan memaksa untuk segera menikah dan hidup “normal”. Setiap bagian dari keluarga saya adalah normal, dan saya bangga berada diantara mereka.

Sering saya berfikir, apa yang membuat setiap orang ingin menikah? Bukankah menikah tidak mutlak wajib? Bukankah kasih sayang bisa kita dapatkan meski tanpa pernikahan? Begitu besar kasih sayang yang kita dapatkan dari orang tua kita, tanpa perlu menikahi mereka. Begitu banyak teman, sahabat, saudara dan kekasih yang bisa membahagiakan kita, dan bisa kita perlakukan sama.

Lalu kenapa orang menikah? Untuk kepuasan seksualkah? Atau untuk memiliki keturunan? Bagaimana kalau saya tidak ingin memiliki keturunan? Bukankah saya memiliki lebih banyak waktu untuk mengasihi mereka yang belum terkasihi? Bukankah saya mendukung go green? Bukankah saya adalah “suami dan bapak” dari banyak orang?

Tidak suka ditanya tentang pernikahan bukan berarti saya tidak akan menikah. Mungkin suatu hari saya memutuskan untuk menikah. Tapi tidak sekarang. Tidak ada rencana, bahkan keinginan untuk menikah untuk saat ini. Setiap orang berhak memutuskan menikah atau tidak, punya anak atau tidak. (Igo Gimon 011312, 01:27)

 

Oleh : Gomar Ferdian Gimon


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: