Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Kekerasan terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga, Hegemoni Patriarki Atas Perempuan

Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah global yang banyak dibicarakan saat ini. Diperkirakan paling sedikit satu diantara lima penduduk perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pria1. Akhir-akhir ini, KDRT makin marak di masyarakat, terutama KDRT yang terjadi pada istri. Komnas perempuan 2 menyatakan bahwa bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling sering terjadi adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Laporan WHO tahun 2002 mengenai “Violence and Health” (Kekerasan dan Kesehatan) menunjukkan kualitas kesehatan perempuan menurun drastis akibat kekerasan yang dialaminya. Hal tersebut dibuktikan bahwa antara 40-70 % perempuan yang meninggal karena pembunuhan, umumnya dilakukan oleh mantan atau pasangannya sendiri. 3 Studi yang dilakukan WHO di 10 negara menunjukkan 15-71% wanita mengalami kekerasan fisik atau seksual yang dilakukan oleh suami atau pasangannya. 4

Hingga saat ini Indonesia belum mempunyai statistik nasional untuk tindak KDRT. Pencatatan data kasus KDRT dapat ditelusuri dari sejumlah institusi yang layanannya terkait sebagaimana diatur dalam UU Penghapusan KDRT dan Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban kekerasan Dalam Rumah Tangga. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan atau disebut Komnas Perempuan, mencatat bahwa di tahun 2006 sebanyak 22.512 kasus kekerasan terhadap perempuan dilayani oleh 258 lembaga di 32 propinsi di Indonesia 74% diantaranya kasus KDRT dan terbanyak dilayani di Jakarta (7.020 kasus) dan Jawa tengah (4.878 kasus). 5

Data tahun 2007 Mitra Perempuan Women’s Crisis Center (WCC) 6 mencatat 87% dari perempuan korban kekerasan yang mengakses layanannya mengalami KDRT, dimana pelaku kekerasan terbanyak adalah suami dan mantan suaminya (82,75%). Fakta tersebut juga menunjukkan 9 dari 10 perempuan korban kekerasan yang didampingi WCC mengalami gangguan kesehatan jiwa, 12 orang pernah mencoba bunuh diri; dan 13,12% dari mereka menderita gangguan kesehatan reproduksinya.

Kekerasan terhadap perempuan dapat berdampak fatal berupa kematian, upaya bunuh diri dan terinfeksi HIV/AIDS. Selain itu, kekerasan terhadap perempuan juga dapat berdampak non fatal seperti gangguan kesehatan fisik, kondisi kronis, gangguan mental, perilaku tidak sehat serta gangguan kesehatan reproduksi. Baik dampak fatal maupun non fatal, semuanya menurunkan kualitas hidup perempuan. 7 Dengan melihat serangkaian fakta diatas, maka tidak berlebihan jika dikatakan KDRT merupakan bagian dari isu kesehatan masyarakat yang patut diperhatikan.

Kekerasan terhadap perempuan dapat muncul dalam satu atau lebih bentuk. Berikut ini beberapa hasil wawancara dengan istri-istri yang menjadi korban KDRT yang semua pelakunya adalah suami mereka. Kisah kisah mereka bukan khayalan atau karangan semata ini adalah kisah nyata yang sesunguhnhya dekat dengan realitas di masyarakat, yang sering kita menutup mata terhadap realitas ini. Mereka adalah korban KDRT yang berhasil ditolong dan diberikan layanan medis, psikologis, juga bantuan pendampingan hukum oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kalimantan Timur.

Kekerasan yang diterima merupakan gabungan bentuk kekerasan yang meliputi bentuk kekerasan fisik, ekonomi, seksual, psikis dan penelantaran rumah tangga. Berikut ungkapan mengenai bentuk-bentuk kekerasan yang mereka alami:

“…ditutup semua ini pintu jendela ga boleh keluar saya…dia ambil uang saya itu 600 ribu untuk main judi, 600 ribu saya untuk masukkan TK anakku sekalinya dia ambil untuk main judi sampe saya nangis…ya saya ndak dibolehkan tidur di rumah itu tidur di emperan sama anakku…”

seksual iya…setiap anu itu dia kepengen kayak gitu kebanyakan mukul dalam keadaan nangis digitukan, dalam keadaan haid digitukan (gitu: berhubungan intim)

Tidak ada kekerasan yang hanya terjadi satu kali. Kekerasan itu berulang bila semakin sering faktor pemicu tersebut muncul maka semakin sering kekerasan terjadi.

“oh itu sudah sering mba…biasanya kalo dia lagi emosi tinggi…karna ndak ada pekerjaan…mabuk-mabukan”

Tempat terjadinya KDRT disebutkan bahwa kekerasan yang mereka alami terjadi utamanya di rumah mereka sendiri .

“ini di ini di kamar ini dirumahku ini sampai saya siup, keluar darah itu mungkin ada setengah gelas itu ngalir di karpet ini…ndak ada orang liat cuma dia sendiri yang anu itu yang ngelap itu…”

“kalo ndak salah dia mukul aku pas di samping kulkas oah…pokoknya dicekek sudah aku tu dihajar sekuat-kuatnya nah aku mikir dalam hatiku kalo aku ndak ngelawan ini mati aku, ku tendang lari aku ke luar, menghindar ku tendang jatoh, lari aku ke luar…ke tempat tetangga…”

Kekerasan demi kekerasan tersebut tentu saja menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan perempuan korban KDRT. Dari sisi kesehatan fisik luka memar merupakan dampak yang paling sering dialami korban. Dampak psikologis ringan sampai berat hingga dirawat di rumah sakit jiwa. Dampak kesehatan reproduksi berupa infeksi pada organ reproduksi.

Tindakan ini terjadi dikarenakan telah diyakini bahwa masyarakat atau budaya yang mendominasi saat ini adalah patriarkhi, dimana laki-laki adalah superior dan perempuan inferior sehingga laki-laki dibenarkan untuk menguasai dan mengontrol perempuan. Hal ini menjadikan perempuan tersubordinasi. Di samping itu, terdapat pendapat yang keliru terhadap stereotipe jender yang tersosialisasi sangat lama dimana perempuan dianggap lemah, sedangkan laki-laki, umumnya lebih kuat.

Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Sciortino dan Smith. 11 bahwa menguasai atau memukul istri sebenarnya merupakan manifestasi dari sifat superior laki-laki terhadap perempuan. Selain budaya patriarkhi yang masih sangat kuat, ada budaya yang juga menjadi kendala, yaitu “budaya diam”. Perempuan pada umumnya memilih untuk diam, tidak menceritakan kekerasan yang dialaminya kepada orang lain. Sementara itu, mereka umumnya masih berpegang pada nilai-nilai ketergantungan, kurangnya kemandirian mereka, di balik kekuasaan yang tidak seimbang karena budaya patriarkhi, sehingga status sosial, kelas dan ekonomi mereka menjadi lemah.12

Kecenderungan tindak kekerasan dalam rumah tangga terjadinya karena faktor dukungan sosial dan kultur (budaya) dimana istri di persepsikan orang nomor dua dan bisa diperlakukan dengan cara apa saja. Hal ini muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, istri harus nurut kata suami, bila istri mendebat suami, dipukul. Kultur di masyarakat suami lebih dominan pada istri, ada tindak kekerasan dalam rumah tangga dianggap masalah privasi, masyarakat tidak boleh ikut campur.

Faktor sosial budaya dan hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan merupakan faktor penting yang berperan dalam menciptakan pengaruh positif atau negatif pada kesehatan seseorang. Oleh karena itu hendaknya hubungan suami istri dilandasi penghargaan terhadap pasangan masing-masing, dilakukan dalam kondisi yang diinginkan bersama tanpa ada unsur paksaan, ancaman dan kekerasan.

Daftar Pustaka

  1. Sofyan, M. 2006. Bidan Menyongsong Masa Depan. Jakarta : PP IBL
  2. Komnas Perempuan, 2002. Peta Kekerasan Pengalaman Perempuan Indonesia, Jakarta : Ameepro.
  3. World Health Organisation, 2002. Violence and health Fact Sheet No 239 http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs239/en/%5Bdiakses tanggal 20 Mei 2011)
  4. World Health Organisation, 2009. Violence Against Women Fact Sheet No 239 http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs239/en/%5Bdiakses tanggal 20 Mei 2011)
  5. Kalibonso, R. S. 2002. Kejahatan Itu Bernama Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Jurnal Perempuan. Vol 25 (7-21).
  6. Tamtiari, Wini. 2005. Melindungi Perempuan dari Kekerasan dalam Rumah Tangga. Yogyakarta : Kerjasama Ford Foundation dengan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada.
  7. Heise L.L., et al., 1994 Violence Against Women: The Hidden Health Burden. World Bank, Washington
  8. Ayu Sofhatul Awaliyah. Dampak Serius KDRT Bagi Kesehatan Masyarakat http://www.depkes.go.id[diakses tanggal 5 Februari 2011]
  9. Pemprov Kaltim, Tercatat 133 Kasus KDRT di Kaltim,Kaltim Post.co.id[diakses 15 Mei 2011]
  10. Sciortino, Rosalia. 1999. Menuju Kesehatan Madani. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
  11. Subhan, Zaitunah. 2001. Kekerasan Terhadap Perempuan. Yogyakarta : Pustaka Pesantren
  12. Yuarsi, Susi Eja. 2002. Tembok Tradisi dan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan. Yogyakarta : Kerja sama Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada dengan Ford Foundation.

 

Oleh : Annisa Nurrachmawati


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: