Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Keterkejutanku

Keterkejutanku..

Mungkin ini lebih menceritakan keterkejutanku saat mengikuti Pelatihan Gender, Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi dan Seksual dari Yayasan Mitra Inti.

Keterkejutanku pertama, saat aku baru datang dari Malang tiba di hotel Santika Pandegiling Surabaya yang jadi lokasi acara training untuk seminggu. Aku langsung menuju ke resepsionis dan menyebutkan diri sebagai bagian dari rombongan Yayasan Mitra Inti. Resepsionis menanyakan namaku, lantas mencocokkan nama dengan list daftar peserta dari panitia. Saat aku cocokkan nama tertera disitu namaku yang sekamar dengan peserta lain, dengan nama AA (nama pria).

“Kok mirip dengan nama temenku dari Pekalongan, Jawa Tengah yaa,”aku membatin. Tapi rasanya namanya bukan yang ini. Karena ketika aku cek ulang di asal lembaga, tertera GIPA Makassar. Memang bukan dia. Bayanganku berarti aku akan sekamar dengan cowok.

Segera setelah mendapatkan kunci kamar 1004, aku menuju lift dan naik ke lantai 10. Saat di depan pintu, aku ragu antara langsung menggunakan kunci kamar dan masuk dengan terlebih dahulu memencet bel, agar teman sekamarku tidak kaget jika aku yang masih belum dikenal, tiba-tiba masuk kamar.

Kupencetlah bel kamar, dan sesosok wajah muncul dari balik pintu. Namun ketika aku lihat, wajah itu cantik dengan rambut panjang terurai. Jujur aku terkejut dan shock karena mengira aku telah salah kamar. “Maaf mbak.. Maaf.. Kayaknya aku salah kamar, maaf yaa” ujarku meminta maaf.

Namun segera aku cek ulang kunci di tanganku, tertera jelas angka 1004 dan kulihat ulang nomor kamar juga sama 1004. Berarti memang ini kamarku. Pikiranku langsung berfikiran teman sekamarku “AA” sedang membawa teman perempuan ke dalam kamar.

Aku termangu di depan kamar, ragu untuk masuk ke dalam kamar. Segera sosok wajah cantik di depanku yang melihat aku bengong, menyapaku “Ini Mamad dari Malang ya?”

Aku terkejut kembali, karena dia menyapa nama panggilanku dan ngerti jika aku berasal dari Kota Malang. Kutatap kembali wajah itu untuk mengingat-ingat kembali, namun rupanya aku merasa tidak pernah mengenal wajah ini. Dan dari penampilan fisiknya, aku segera mengenalinya sebagai transgender atau waria.

Aku langsung masuk ke dalam kamar dan menaruh koper dan tasku, sambil terus bertanya dalam hati kira-kira kenal dimana dengan waria ini. Namun karena masih sangat shock harus sekamar dengan waria, yang tidak pernah terbayang di benakku maka aku belum sempat berkenalan langsung dengannya. Sebab selama ini, dalam mengikuti banyak pelatihan, baik di isu HIV/AIDS atau isu LGBTIQ selalu share kamar dengan jenis kelamin yang sama atau gender yang sama. Bahkan dalam keseharianku di lembaga, berinteraksi langsung dengan transgender, ngobrol hingga dekat dan bekerja sama dengan transgender sudah tidak asing lagi. Namun, karena ini baru kualami secara langsung dan tidak pernah menyangkanya, membuatku harus berdamai dulu dengan kenyataan yang ada. Konstruksi yang terbangun di benakku, ketika membaca nama teman sekamarku yang “laki-laki” dengan bayangan sosok pria, dengan rambut cepak, berpakaian layaknya pria. Akhirnya aku terefleksi jika aku yang sudah pernah mengikuti Pelatihan Gender dan Seksualitas tingkat pertama serta bekerja di isu LGBTIQ dan punya banyak teman transgender masih merasa shock dan canggung jika harus sekamar dengan transgender/waria, bagaimana dengan orang awam. Masyarakat umum yang asing dan tidak pernah mengerti soal gender dan seksualitas, pasti memiliki persepsi dan pandangan yang sangat amat tidak sensitif gender. Sungguh kurasakan betapa hegemoni heteronormativitas begitu membeleggu dan mengkonstruksi pikiran dan pandanganku, serta lingkungan masyarakat sekitar.

Keterkejutan selanjutnya, saat di dalam kelas dengan keaneka ragaman gender dan seksualitas ini aku disapa oleh seseorang dengan rambut cepak hampir gundul namun bagian dadanya menonjol (karena payudara). Dia memanggilku dengan nama asli dan daerah asalku. Dia merasa mengenalku dengan dekat di masa lampau. Aku terus mencoba mengingat ingat siapakah sosok wanita tomboy dengan penampilan layaknya buchi ini. Akhirnya setelah dikilas balik, dia adalah teman se-almamaterku di Universitas Brawijaya Malang dan se-unit aktivitas mahasiswa IMPALA (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam).

Dan puncak keterkejutanku saat mengikuti permainan “Do-Mi-Do” di saat jam istirahat, dimana peserta yang terhukum harus menjawab satu pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur, pertanyaan apapun baik isu sensitif atau hal yang privacy sekalipun. Ternyata ada beberapa orang yang memberikan pengakuan terkait orientasi dan identitas seksualnya. Sungguh semua keterkejutanku ini menguatkan statement bahwa setiap individu itu unik!! Dan seks itu cair..

 

Oleh : Muhammad Tohir


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: