Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Konstruksi Sosial tentang Gender dan Seksualitas dalam Bahasa

Konstruksi sosial menjadi salah satu alat penting untuk melakukan pengkajian terhadap konsep-konsep gender dan seksualitas. Konsep-konsep tersebut dapat muncul melalui wacana, nilai, ide, teks dan praktik yang digunakan untuk melanggengkan konsep tersebut. Konsep dan kategori yang digunakan tentunya memiliki makna dan konotasi yang beragam dari waktu ke waktu dan dari satu budaya ke budaya lainnya. Konsep tersebut tentunya kemudian menjadi tidak bermakna objektif dan universal dalam dirinya, tapi menjadi subyektif karena terkait dengan pengalaman atau fungsinya dalam kehidupan manusia. Sehingga ketepatan dari suatu konsep, kategori, atau metode lebih tergantung pada ketepatan-gunanya dalam kehidupan nyata manusia.
Hal ini dapat terlihat dalam sebuah contoh dialog dibawah ini:

“Wah, keramas nih berdua pagi-pagi”

Kalimat di atas mungkin tidak akan bermakna apa-apa ketika tidak ada realitas sosial yang menyertainya. Kalimat tersebut hanya menggambarkan bahwa ada dua orang yang mencuci rambutnya di pagi hari.
Namun ketika kemudian kalimat tersebut ditambahkan realitas sosial, seperti di bawah ini:

Di suatu pelatihan, Nina melihat Vina yang seorang Lesbian dan Kania yang diketahui mempunyai pasangan perempuan keluar dari kamar hampir bersamaan dengan rambut masing-masing basah karena cuci rambut. Dan kemudian Nina menyapa mereka “Wah, keramas nih berdua pagi-pagi”

maka makna yang ditimbulkan dari fakta di atas menjadi berubah dan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yang akan memunculkan realitas yang berbeda pula.

Mengapa penafsiran terhadap kalimat atau realitas dapat berbeda?

Menurut Interaksionisme simbolik: perbedaan manusia dari hewan adalah manusia menggunakan simbol-simbol yang diberi makna dalam interaksinya dengan sesamanya. Persepsi dan tindakan seseorang dipengaruhi oleh kelompok sosial di mana dia berada di dalamnya. Self (diri) merujuk pada bagaimana seseorang melihat dirinya—siapa dirinya sesungguhnya, apa identitasnya, citra dirinya, dan bagaimana perkembangan diri melalui babakan-babakan tertentu. Misalnya, anak kecil akan meniru peran yang dimainkan atau memakai atribut-atribut yang banyak digunakan oleh orang-orang tua yang ada di lingkungannya. Lambat-laun peniruan ini akan berubah menjadi pemahaman melalui internalisasi yang terus-menerus. Selama proses interaksi ini, individu belajar tentang mana tindakan yang dianggap tepat dan mana yang tidak. (Plummer, K. (2002), “Symbolic Interactionism and Sexual conduct,” in C. Williams and A. Stein (eds.), Sexuality and Gender, Oxford: Blackwell Publishers, 25).

Berdasarkan teori-teori sosial yang ada, seperti teori interaksionisme simbolik, konstruksi sosial, dan emik-etik, ketika berbicara mengenai seksualitas, pendapat atau tafsiran individu terhadap realitas yang ada dapat terpapar oleh nilai-nilai dan wacana yang ada di masyarakat yang terkadang berupa wacana konstruksi yang di esensialkan. Dan tingkat paparan ini berbeda-beda tergantung waktu, ruang, situasi/kondisi sosial, dan intensitas paparan itu bersentuhan dengan individu tersebut.

Jadi misalnya dalam pernyataan di atas, setiap individu yang  melihat atau mendengar atau membaca pernyataan itu dapat dipastikan akan mempunyai pendapat atau emik yang berbeda. Contoh emik dari penulis yang dapat dianggap mewakili individu-individu di cuplikan pernyataan tersebut di atas, antara lain:

  1. Nina mengeluarkan pernyataan seperti itu karena dia seorang yang terhegemoni bahwa sehabis melakukan hubungan seksual maka harus cuci rambut atau mandi keramas
  2. Nina mengeluarkan pernyataan seperti itu karena mempunyai anggapan bahwa Lesbian selalu mementingkan hasrat seksual dan hubungan seksual
  3. Nina mengeluarkan pernyataan seperti itu karena mempunyai anggapan bahwa Lesbian akan melakukan hubungan seksual dengan semua perempuan.
  4. Vina dan Kania, bisa sangat tersinggung karena dianggap sebagai Lesbian yang berperilaku seksual dengan siapapun dan dimanapun
  5. Vina dan Kania bisa saja tidak mempunyai merasa apapun karena sudah paham tentang emik Nina dan hanya menegur Nina saja dengan santai.

Jadi, begitu banyak emik yang muncul hanya dari satu realitas yang berdasarkan interaksionis simbol.

Untuk kenyataan di atas, perlu mengetahui bagaimana emik dari Nina, Vina dan Kania untuk melihat seperti apa mereka ini memandang isu gender dan seksualitas. Yang menurut interaksionisme simbolik tentang gender dan seksualitas: Setiap individu mempelajari ini semua dan kemudian membentuk jati dirinya (gender dan seksualitas) sesuai dengan apa yang sudah ditentukan oleh komunitasnya. Berbagai kesimpulan di atas mengantarkan kita pada posisi tertentu bahwa gender dan seksualitas merupakan konskturksi sosial (socially constructed). (Plummer, K. (2002), “Symbolic Interactionism and Sexual conduct,” in C. Williams and A. Stein (eds.), Sexuality and Gender, Oxford: Blackwell Publishers, 25).

Ini kemudian kenapa diperlukan cara pandang yang holistik dan komprehensif terhadap suatu realitas dan selalu dikaitkan dengan konteks terjadinya realitas dalam hal ini tempat dan waktu. Cara pandang yang seperti ini berguna agar apa yang kita upayakan terhadap realitas tersebut dapat mengena atau paling tidak mendekati yang diharapkan. Dari situ kita dapat mengambil langkah penguatan wacana dan pemahaman terhadap isu gender dan seksualitas. Antara lain perlunya sosialisasi lebih jauh pada Nina agar memahami bahwa isu gender dan seksualitas itu termasuk keragaman identitas gender dan orientasi seksual, tidak hanya binary laki-laki dan perempuan. Seperti kata Gayle Rubin tentang seksualitas: Masyarakat menciptakan hirarki seksual yang dilabeli penilaian baik dan buruk, sah dan tidak sah. Masyarakat mengklasifikasi dorongan, tindakan, dan identitas tertentu sebagai normal, terhormat, baik, sehat, dan bermoral; sedang bentuk yang lain diklasifikasi sebagai tidak sehat, abnormal, berdosa, dan immoral. Masyarakat akan mendukung dan mengistimewakan bentuk seksualitas yang baik dan normal dan akan mengkum bentuk seksualitas yang dianggap jelek abnormal

Sehingga dikemudian hari ada penghormatan dan penghargaan terhadap orang yang mempunyai identitas gender maupun orientasi seksual yang berbeda dengan dirinya. Dan mulai menghilangkan stigma atau stereotype negatif terhadap Lesbian.

Dalam memberikan pemahaman tersebut termasuk pula bahwa perilaku seksual tidak berkaitan dengan identitas gender dan orientasi seksual. Mengacu pada anggapan Nina bahwa orang yang mempunyai orientasi seksual homoseksual dapat melakukan hubungan seksual dengan siapapun dan dimanapun, maka perilaku seksual dapat pula dilakukan oleh orang yang berorientasi seksual heteroseksual.

Jadi guna memahami gender dan seksualitas manusia secara utuh dan komprehensif dari berbagai aspek, diperlukan kesensitivitasan kita sebagai individu terhadap orang lain. Sensitivitas ini dalam artian agar kita tidak melakukan diskriminasi secara langsung maupun tidak langsung dan kekerasan verbal maupun non verbal yang berdampak pada pembatasan hak, stigma, dan stereotype terhadap kelompok LGBTI. Selain itu, diperlukan pula pendekatan yang holistik dan pikiran yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial budaya.

Semoga perluasan pemahaman melalui pelatihan FSI dan tindak lanjut dari para alumninya dapat membawa perubahan yang berarti bagi penghormatan manusia seutuhnya termasuk hak atas tubuh dan seksualitasnya. ***erf012012***

 

Oleh : Estu R. Fanani


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: