Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

“NO FREE SEX” vs KAMPANYE SEKS BERTANGGUNG JAWAB

“NO FREE SEX” sebuah slogan yang selama ini sering dipergunakan dalam kampanye isu Kesehatan Seksual dan Reproduksi, di Indonesia kampanye tersebut utamanya diperuntukkan bagi remaja (semua remaja di Indonesia harusnya berteriak dan protes mengapa kampanye-kampanye tersebut khusus ditujukan bagi kelompoknya saja). Slogan tersebut kemudian ditulis dengan huruf besar dan ukuran yang sangat mencolok mata disetiap media komunikasi yang dicetak untuk kepentingan promosi isu Kesehatan Seksual dan Reproduksi tersebut.

“No Free Sex” biasa diartikan tidak melakukan seks bebas, dalam artian tidak dilakukan secara sembarangan, tidak berganti-ganti pasangan, dengan harapan terhindar dari kehamilan dan tertular Infeksi Menular Seksual, termasuk HIV. Sebuah situasi yang tentunya tidak diharapkan akan menimpa diri remaja.

Merasa tergelitik, mengapa “No Free Sex” selalu didengungkan dan disuarakan dalam kampanye yang memiliki tujuan untuk melindungi remaja dari situasi yang akan merugikan dirinya akibat salah dalam memilih dan menentukan perilaku seksual akibat kurangnya informasi tentang Kesehatan Seksual dan Reproduksi? Mengapa tidak membuat suatu kampanye yang justru mengajak remaja untuk lebih bisa bertanggung jawab atas tubuh dan dirinya?

Tentang Remaja

Manusia memiliki dorongan seks, setiap manusia pasti memilikinya dan tidak ada pengecualian termasuk dalam diri remaja. Jika melihat siklus yang dialami oleh manusia, pada saat seseorang mulai memasuki masa Puber, dimana ditandai dengan mulai aktifnya hormon seksual dalam diri seseorang tersebut, bisa dipastikan dorongan seksual juga muncul. Perlu diingat dan digarisbawahi bahwa dorongan seks yang muncul tersebut tidak bisa dihilangkan!!! (Jadi bohong jika ada yang teriak dengan lantang dia ga’ punya dorongan seks, justru kita perlu mengasihani orang tersebut).

Puber diartikan sebagai masa transisi dari anak-anak menuju usia (perkembangan fisik dan psikologis) dewasa, dan masa transisi ini kemudian yang disebut dengan “masa” Remaja.

Sebelum dorongan seksual tersebut muncul, seharusnya sejak dini remaja perlu diperkenalkan dan dibekali dengan pengetahuan tentang Managemen (Pengelolaan) Dorongan Seksual. Kata pengelolaan dipilih karena sewaktu-waktu dorongan seksual akan muncul, dan selanjutnya remaja tersebut akan dihadapkan pada pilihan: menyalurkan atau mengalihkan (catat: bukan menghilangkan) dorongan seksual tersebut. Justru di usia remaja merupakan masa dimana dorongan seks yang muncul sedang tinggi-tingginya, sehingga bisa dibayangkan kemungkinan resiko terburuk yang terjadi jika remaja tidak dibekali dengan informasi tentang bagaimana mengelola dorongan seksual.

Sebagai sebuah kampanye, “No Free Sex” muncul dari permasalahan dalam diri remaja sebagai latar belakangnya, yang selama ini oleh sebagian besar masyarakat kita dianggap belum bisa diberikan kebebasan dan kepercayaan untuk menentukan dan memutuskan segala sesuatu yang terkait atas diri dan tubuhnya, dan kampanye tersebut kemudian bertujuan untuk membekali remaja dari resiko terburuk jika mereka salah dalam menentukan pilihan perilaku seksualnya.

Adakah yang salah dengan Kampanye “NO FREE SEX”?!?

FREE SEX = SEKS BEBAS. Pemilihan “Seks Bebas” disini yang kemudian dirasa menjadi hal yang dirasa kurang pas. Bukan salah, tetapi terasa kurang tepat pemilihan kata untuk sebuah kampanye yang bertujuan memberikan edukasi tidak hanya bagi remaja, terutama bagi mayarakat luas tentang seksualitas yang benar dan tepat. Sekali lagi perlu dipertegas, bahwa setiap orang tanpa pengecualian bagi remaja, mempunyai hak untuk menyalurkan dorongan seksnya yang muncul. Walaupun jika remaja kemudian memilih dan memutuskan untuk menyalurkan dorongan seksnya, sebelumnya wajib dibekali terlebih dahulu dengan segala macam pengetahuan dan informasi yang benar dan tepat tentang pilihan perilaku seksual, termasuk resiko dan kerugian jika mereka memilih salah satu perilaku seksual tersebut. Hal ini yang tidak terjadi di Indonesia, karena seks untuk remaja dianggap tabu. *Mendapatkan akses pendidikan dan informasi – termasuk pengetahuan tentang seksualitas, merupakan hak yang harus diberikan ke remaja.

Jika kemudian kita berbicara tentang keputusan dan pilihan untuk menyalurkan dorongan seks, pastinya kita akan berbicara tentang bagaimana melakukan perilaku seks yang sehat. Dan jika kita berbicara tentang seks yang sehat, salah satunya kita akan membahas tentang kondisi dimana pada saat melakukan hubungan seks dalam kondisi dan situasi (fisik dan kejiwaan) dimana kedua belah pihak yang akan berhubungan seks tidak dalam kondisi tertekan alias TIDAK BEBAS (NOT FREE).

Bisa dibayangkan, siapapun yang melakukan hubungan seks dalam keadaan tertekan, tidak rileks, tidak merasa bebas terutama jika hal ini dialami oleh pihak perempuan, akan berakibat lubrikasi pada vagina perempuan tersebut tidak maksimal, yang berarti bahwa perempuan tersebut belum siap melakukaan penetrasi. Situasi demikian jika dipaksa untuk tetap dilakukan penetrasi pastinya akan beresiko besar terjadinya perlukaan yang pastinya kondisi ini akan sangat merugikan perempuan. Perlukaan tersebut bisa menimbulkan resiko terjadinya infeksi, dan jika sampai terjadi infeksi di alat reproduksi perempuan yang notabene merupakan bagian vital dan sangat rentan di tubuh perempuan, tidak menutup kemungkinan perempuan tersebut harus berjuang, mempertaruhkan nyawa dan kehidupannya.

Hanya salah satu contoh, dimana ketika seseorang memilih dan kemudian memutuskan seksual aktif sebagai bentuk penyaluran dorongan seks yang ada dalam dirinya, ternyata harus dilakukan dan diputuskan dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Tidak sekedar asal buka celana atau buka sarung saja, dibalik perilaku seks yang dipilih ternyata ada banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan tidak untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk kebaikan pasangan kita.

Kampanye “SEKS YANG BERTANGGUNG JAWAB”

Setiap orang mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan atas apa yang akan diperuntukkan bagi tubuhnya dan bukan menjadi hak bagi seseorang untuk melarang orang lain ketika mengetahui seseorang tersebut melakukan apa yang telah menjadi keputusannya.

Perilaku Seks yang bertanggung jawab harus dikampanyekan ke semua orang di muka bumi Indonesia kita tercinta. Interaksi dua orang yang tidak saling menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. Tidak hanya diperuntukkan bagi remaja. Kaitannya dengan relasi seksual di usia muda, tua, remaja, dewasa, laki-laki dan perempuan, laki-laki dengan laki-laki, laki-laki dengan waria, perempuan dengan perempuan, perempuan dengan laki-laki dan laki-laki lainnya, dan masih banyak relasi silaturahmi kelamin yang mungkin buat sebagian orang diluar nalar yang dimilikinya, harus didorong untuk selalu menerapkan sebuah bentuk hubungan yang sehat dan harapannya tidak akan merugikan pihak-pihak yang terlibat. Menciptakan sebuah relasi yang sehat dan bertanggung jawab, diperlukan pemahaman yang benar dan tepat tentang apa itu Kesehatan Seksual dan Reproduksi.

Masyarakat hendaknya terus belajar…

 

Oleh : Pipiet Laksmono


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: