Posted by: fsindonesia | January 26, 2012

Sinetron dan Hegemoni Gender

Televisi masih menempati peringkat utama sebagai sarana hiburan di Indonesia. Aksesnya yang mudah dan murah menjadikan semua golongan bisa menikmatinya. Kehadiran televisi tidak dapat dipisahkan dari fungsi yang diembannya. Menurut PR. Putra, dkk. Di dalam Wacana Gendera dan Layar Televisi, salah satu fungsi televisi adalah sebagai sumber informasi yang menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dalam berita dan hiburan. Sebagai produk budaya dan peradaban manusia, daya penetrasi televisi jauh lebih besar daripada media informasi lainnya.

Cukup dengan menekan tombol “on” dan angka-angka pada remote control untuk memilih stasiun pemancar televisi, setiap orang dapat dengan mudah mendapat hiburan. Tidak mengherankan jika kemudian banyak julukan terlontar untuk televisi, yakni idiot box, stupid box, window of the world, the second God, evil demon of image, electronic altar, dan miracle cox. Julukan-julukan ini membuktikan betapa televisi dalam waktu bersamaan bisa dicintai sekaligus dicaci. Mengapa dicintai? Karena televisi dapat menghibur dan menambah pengetahuan. Lalu mengapa juga dicaci ? karena disinyalir ada banyak dampak negatif yang dapat mengancam tatanan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Seperti misalnya kemunculan budaya meniru dan kemerosotan nilai kemanusiaan akibat nilai-nilai sosial budaya baru merebak di dalam perilaku masyarakat sehari-hari. Hal ini terjadi karena proses penyampaian nilai-nilai tersebut terjadi berulang-ulang.

Salah satu serial hiburan televisi yang banyak ditonton adalah komedi situasional (situational comedy) atau sitcom “Suami-suami Takut Istri” (SSTI). Tayangan ini mengandung banyak pesan yang bias gender. Dilihat dari judul, SSTI menekankan pada kata “takut” yang tidak hanya terjadi pada suami terhadap istri, akan tetapi juga sebaliknya. Di tengah gencarnya penayangan sinetron remaja dan reality show di layar kaca, SSTI mendapat tempat khusus di hati pemirsa karena kemasan ceritanya yang khas. Terbukti tontonan ini sudah dibuat sebanyak lebih dari 300 episode. Pada setiap episode, topik SSTI selalu berbeda, meski kemasannya tetap bergaya komedi.

Beberapa komentar tentang SSTI di beberapa blog mengatakan bahwa sitkom ini telah mengangkat derajat perempuan karena mampu menggusur dominasi laki-laki. Akan tetapi, jika dikaji lebih lanjut, terdengarnya suara tertawa serempak pada setiap akhir adegan menunjukkan bahwa pemutar-balikkan citra dominan dari laki-laki menjadi perempuan sebenarnya hanya menjadi bahan olok-olok semata.

Objek Olok-olok

Pada sinetron di Indonesia, karakter perempuan yang menjadi pemeran utama biasa digambarkan sebagaimana konstruksi perempuan di masyarakat, yakni tidak mandiri, lemah dan lebih emosional walaupun judulnya mengusung nama perempuan seperti Melati untuk Marvel, Cinta Fitri, Safa dan Marwa, dan sebagainya. Citra lama perempuan ini didekonstruksi oleh SSTI menjadi tokoh perempuan yang sangat berkuasa terhadap tokoh laki-laki. Tetapi penggambaran perempuan yang “kuat” dan laki-laki yang “lemah” seperti itu kebanyakan justru menempatkan meneraka sebagai objek olok-olok. Kekuatan yang diperlihatkan justru merupakan hal-hal tidak berbobot seperti ambisius, suka menang sendiri, sok pintar dan cenderung tidak menghormati institusi keluarga. Sementara, tokoh laki – laki sangat takut pada istrinya walaupun tidak jarang mereka berada dalam posisi yang pada dasarnya benar. Ceritanya pun masih melestarikan status quo dengan konstruksi perempuan yang sarat stereotip.

Perbedaannya adalah pada penggambaran “kekuatan” peran perempuan yang berlebihan terhadap laki – laki sehingga justru membuat posisinya menjadi tidak terhormat karena dalam masyarakat patriarki hal itu dianggap tidak wajar. Pencitraan laki – laki dalam SSTI yang melawan arus, misalnya, juga menjadi bahan tertawaan karena laki-laki tersebut dianggap sebagai laki-laki yang tidak normal. Semangat perempuan untuk terjun ke ruang publik diwujudkan dengan menjadikan dunia ini lebih feminine. Tetapi, yang tergambar dalam SSTI, perempuan justru berubah atau terjebak menjadi sosok maskulin yang melakukan penindasan terhadap laki-laki.

Sebenarnya apa yang dimaksudkan emansipasi adalah proses menuju pembebasan dari ketertindasan secara fisik, psikis, seksual, ekonomi, ideologi, dan sosial. Di dalam penegasan ini terkandung pula pengertian bahwa proses emansipasi justru jagan sampai menciptakan kebebasan yang kebablasan. Dengan demikian, kesetaraan gender yang diharapkan adalah kemurnian kebebasan dengan menghilangkan hegemoni gender dan bukan membalikkan keadaan dengan bentuk hegemoni baru, bahkan hegemoni feminitas sekalipun. Dalam tanyangan SSTI, lantaran oencitraan dominasi perempuan cenderung kebablasan, justru hegemoni baru seperti inilah yang terlihat. Akibatnya, perjuangan untuk terbebas dari perbedaan gender yang dikonstruksi masyarakat justru melestarikan perbedaan itu sendiri walaupun posisi subjek dan objeknya dibalik. Ekses seperti ini tentu akan berimplikasi kurang baik jika penonton kemudian menerimanya sebagai suatu kewajaran baru.

Imam Ahmad AA Razaq – ALIFAH Cahaya Kesetaraan, Yogyakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: