Posted by: fsindonesia | February 1, 2012

RAHIM INI MILIK SIAPA?????????

Aku menikah di usia 27 tahun dengan laki-laki pilihanku walaupun aku dapat tantangan dari ibuku.Tidak lama kemudian aku mengandung,setelah Sembilan bulan akhirnya aku melahirkan seorang putri yang sehat,cantik dan tentu saja normal.Aku menjalani kehidupan yang biasa sebagai ibu rumah tangga,saat itu aku dan suami masih menumpang di rumah orang tuaku karena suamiku masih belum punya pekerjaan.Seiring waktu pertumbuhan anak ku semakin membuatku bahagia dan membuat orang menjadi gemas karena gemuknya.bertambah bulan aku mulai khawatir karena fisik anakku seperti tidak normal,tubuhnya sangat gemuk tapi dari lutut sampai ke telapak kecil kelihatannya tidak seimbang,aku bicarakan kondisi ini dengan suamiku.Suamiku bilang,sudahlah kamu tidak usah terlalu khawatir.Akhirnya aku tidak pernah membicarakan hal itu lagi,tapi semakin bertambah usianya anakku belum menunjukkan perkembangan apapun,jangankan duduk untuk membalik badannya saja dia tidak bisa,akhirnya aku bicara dengan ibuku.ibuku bilang besok kita harus bawa anakmu ke dokter untuk di periksa dan di terapi,tapi suamiku malah membentak ibuku dan bilang buat apa di terapi-terapi,nanti kalau ada apa-apa dengan anak saya ibu mau tanggung kawab?keadaannya memang sudah takdir dari Tuhan ya biarkan saja,aku juga mau dapat uang dari mana untuk meriksa dia ke dokter?Aku hanya bisa terdiam dan menangis ketika ibu mengusir kami dari rumah karena merasa tersinggung dengan ucapan suamiku dan yang membuatku semakin bingung saat ini suamiku minta aku hamil lagi,katanya mumpung usiaku belum 30 tahun,padahal anak pertama kami sampai usianya 3 tahun belum bisa apa-apa hanya bisa tidur.Aku bingung,aku bilang tidak mau hamil lagi,malah aku di anggap istri yang tidak patuh sama suami.Apakah aku harus mengikuti kemauan suami atau menolak karena aku tidak siap untuk hamil dan punya anak lagi?

Sepenggal cerita di atas adalah pemaparan terang akan kuatnya kontruksi sosial bahwa perempuan kodratnya adalah melahirkan karena mereka yang mempunyai alat reproduksi yang fungsinya untuk mengandung,perempuan sebagai pemilik rahim pun tidak berhak untuk menentukan apakah rahim itu di pergunakan atau tidak.Lalu sebenarnya rahim ini milik siapa??Pertanyan ini muncul di sebabkan karena hak asasi manusia banyak yang terabaikan,salah satunya adalah hak reproduksi dan seksualitas.Terlihat dari pengimplementasian atas UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan yang belum maksimal(dalam 7 pasal dari pasal 14-20,yang menyebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kesediaan sumber daya,fasilitas dan akses terhadap informasi,edukasi demi meningkatkan dan memlihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

 

Oleh : Haiziah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: